Pedagang Daging Sapi Salatiga Mogok Jualan, Protes Kelangkaan Sapi dan Harga Tinggi


JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA — Suasana berbeda terlihat di los daging sapi Lantai 2 Pasar Raya 1 Salatiga, Senin pagi (22/6/2026). Deretan lapak yang biasanya penuh daging sapu kini tampak kosong, sehingga aktivitas perdagangan hampir tidak berjalan.

Kondisi ini terjadi karena sekitar 100 pedagang daging sapi yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Daging Sapi Salatiga melakukan mogon berjualan selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat (26/6/2026).

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk keprihatinan sekaligus protes terhadap minimnya pasokan sapi siap potong yang menyebabkan harga daging terus merangkak naik. Situasi ini dinilai semakin memberatkan pedagang yang dalam beberapa bulan terakhir harus menanggung kerugian akibat lesunya penjualan.

Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Salatiga, Ny Apri ( 54), menjelaskan bahwa kelangkaan sapi merupakan dampak yang masih tersisa dari wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat melanda sektor peternakan beberapa tahun lalu. Menurutnya, banyak peternak yang belum kembali berani mengembangkan usaha ternak sapi dalam jumlah besar.


Baca juga:  Didapuk Pelindung PBPI Jateng, Ahmad Luthfi: Padel Jangan Jadi Primadona Orang Tertentu

“Pasokan sapi memang semakin terbatas sejak wabah PMK. Banyak peternak yang masih berhati-hati untuk kembali beternak karena trauma dengan kejadian sebelumnya,” ujarnya.

Meski beberapa peternak masih memiliki ternak, sebagian besar sapi yang tersedia masih berusia muda sehingga belum layak dipotong. Sementara itu, biaya pemeliharaan ternak juga terus meningkat, terutama akibat mahalnya harga pakan dan kenaikan biaya produksi lainnya.

Keterbatasan pasokan tersebut berdampak langsung pada harga sapi hidup dan berujung pada kenaikan harga daging di tingkat konsumen. Saat ini harga daging sapi di Salatiga mencapai sekitar Rp140.000 per kilogram, naik signifikan dibandingkan harga normal yang berada di kisaran Rp125.000 per kilogram.

Apri menyebut kenaikan harga mulai terasa setelah Lebaran dan semakin meningkat setelah Idul Adha. Namun, tingginya harga jual justru membuat permintaan masyarakat menurun karena daya beli yang melemah.” Karena harga daging tinggi, maka pembeli jadi sepi, pedagang jadi rugi,” katanya.

Baca juga:  UKSW Kukuhkan 3 Guru Besar Siap Menuju World Class University

Menurutnya, banyak konsumen kini beralih ke sumber protein lain yang lebih murah seperti daging ayam maupun tempe. Akibatnya, pedagang kesulitan menghabiskan stok dagangan dan harus menanggung kerugian dalam setiap transaksi.

“Kerugian yang dialami cukup besar. Untuk pedagang yang memotong sapi sendiri bisa mencapai jutaan rupiah per ekor, sedangkan pedagang eceran juga mengalami kerugian karena penjualan tidak sesuai harapan,” katanya.

Melalui aksi mogok jualan ini, para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk membantu menstabilkan pasokan dan harga sapi.

Mereka mengusulkan adanya dukungan maupun kebijakan yang dapat mendorong pemulihan sektor peternakan sehingga harga daging kembali terjangkau bagi masyarakat.

Para pedagang menilai stabilitas harga dan ketersediaan pasokan menjadi kunci agar usaha peternak, pedagang, hingga kebutuhan konsumen dapat kembali berjalan seimbang.

Jika kondisi kelangkaan terus berlanjut, mereka khawatir tekanan terhadap pelaku usaha daging sapi akan semakin besar dan akses masyarakat terhadap daging sapi semakin terbatas.( deb)


TERKINI

Rekomendasi

...

Jateng Siap Sambut Pemudik

Sempolan dan Tahu Walik Ikan Nila Kreasi...

Horee! Undip Launching Nasi Gratis Buat...