JATENGPOS.CO.ID-Di balik warna-warna yang memenuhi kanvas lukisannya, Aldyth Areon Andra Dewa menyimpan cerita yang tidak banyak diketahui orang. Siswa SMAN 1 Kota Mungkid yang dikenal berprestasi di bidang seni itu ternyata menjalani hari-harinya dengan perjuangan yang tidak sederhana. Di usianya yang masih duduk di bangku sekolah, ia harus membagi waktu antara belajar, bekerja, dan tetap mempertahankan mimpinya di dunia seni lukis.
Ketertarikannya terhadap seni sudah tumbuh sejak kecil. Awalnya, ia hanya senang menggambar hal-hal sederhana di atas buku dan kertas kosong. Namun seiring waktu, kebiasaan kecil itu berubah menjadi tempatnya mengekspresikan diri.“Kadang ada hal yang sulit disampaikan lewat kata-kata, jadi saya menuangkannya lewat karya dan warna dalam lukisan,” ujarnya. Bagi Aldyth, seni bukan sekadar hobi. Melukis menjadi ruang untuk menenangkan diri ketika banyak hal terasa berat. Di balik setiap goresan warna, tersimpan perasaan yang tidak selalu bisa ia ceritakan kepada orang lain.
Perjalanan yang dijalani Aldyth pun tidak selalu mudah. Ia mengaku pernah merasa tidak percaya diri terhadap karya yang dibuatnya. Rasa minder dan takut dibandingkan dengan karya orang lain sempat membuatnya merasa down. Namun, ia memilih untuk tetap bertahan dan terus belajar. Aldyth juga sudah memenangkan banyak kompetisi mulai dari saat belia hingga sekarang. Juara 1 sudah sering ia raih sejak usianya masih tergolong kecil. “Hal yang paling berat sebenarnya adalah prosesnya. Orang sering hanya melihat hasil atau prestasi, tapi tidak melihat rasa lelah, kecewa, dan perjuangan di baliknya,” katanya.
Tidak hanya aktif berkarya, Aldyth juga bekerja di usianya yang masih SMA. Ia bekerja sebagai barista di sebuah kedai kopi. Keputusan itu ia ambil karena ingin belajar mandiri sekaligus membantu meringankan keluarga. Meski harus menjalani banyak hal sekaligus, ia berusaha tetap produktif dan tidak meninggalkan dunia seni yang sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. “Motivasi saya bekerja karena ingin belajar mandiri, mencari pengalaman, dan membantu keluarga. Walaupun masih SMA, saya ingin tetap produktif dan terus berkarya,” ungkapnya. Di tengah kesibukan tersebut, dukungan keluarga menjadi salah satu alasan yang membuatnya mampu bertahan sampai sekarang. Selain orang tua, ada pula sosok terdekat yang selalu menemani proses perjalanan seninya.

Berbagai prestasi telah berhasil diraih melalui seni lukis. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat mengikuti lomba lukis payung bertema “Peach & Harmony” yang digelar pada 21 Januari 2024 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Dalam ajang tersebut, Aldyth berhasil masuk dalam 10 karya terbaik, sebuah pencapaian yang semakin menguatkan keyakinannya untuk terus berkembang di dunia seni. Namun bagi Aldyth, penghargaan terbesar bukan hanya tentang menjadi juara. Baginya, momen ketika karya yang ia buat bisa diapresiasi orang lain justru menjadi hal yang paling berarti.
“Bagi saya, itu lebih berarti daripada sekadar mendapatkan juara, karena artinya apa yang saya buat bisa menyampaikan sesuatu kepada orang lain,” tuturnya. Di balik segala pencapaian yang diraih, Aldyth tetap ingin dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan tidak berhenti belajar. Ia percaya bahwa setiap proses, sekecil apa pun, akan membawa seseorang menuju versi terbaik dirinya. Melalui kanvas dan warna, Aldyth tidak hanya menciptakan karya seni. Ia juga sedang melukis harapan, perjuangan, dan mimpi yang terus ia jaga hingga hari ini.
Oleh : Claresta Aulia Zahra (Pemenang Creative News Challenge Phase 2)






