JATENGPOS. CO. ID, JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Penggerak MBG Indonesia (DPP API) menyatakan optimisme dan dukungan terhadap kepemimpinan baru Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) RI, Sudaryono, dalam memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu Program Strategis Nasional yang diinisiasi Presiden RI Prabowo Subianto.
Ketua Harian DPP API, Marinaningsih, S.H., mengatakan, kepemimpinan baru di BGN diharapkan mampu memperkuat tata kelola Program MBG melalui peningkatan transparansi, akuntabilitas, keamanan pangan, digitalisasi sistem, serta penyempurnaan mekanisme pelaksanaan di lapangan.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap program.
“DPP API menyambut baik arah kebijakan yang disampaikan Kepala BGN RI, Sudaryono. Kami optimistis berbagai pembenahan yang dilakukan akan semakin memperkuat kualitas pelaksanaan Program MBG di seluruh Indonesia,” ujar Marinaningsih.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penyempurnaan tata kelola Program MBG, DPP API menyampaikan 10 Masukan strategis yang dihimpun dari berbagai masukan yayasan, mitra, relawan, dan pengelola dapur MBG di berbagai daerah.
Sepuluh Masukan Strategis DPP API adalah :
1. Penataan Struktur Organisasi SPPG yang Lebih Profesional, DPP API mengusulkan pembagian tugas yang lebih jelas di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mulai dari Kepala SPPG, Pengawas Keuangan, Pengawas Gizi, Chef, Asisten Lapangan di harapkan 5 orang ini menjadi backbone dan didukung Koordinator Gudang, Tim Persiapan, Pengolahan, Pemorsian, Distribusi, hingga Tim Sanitasi. Struktur organisasi yang jelas dinilai akan meningkatkan efektivitas kerja sekaligus memperkuat akuntabilitas.
2. Penguatan Tata Kelola SDM dan Standar Integritas, DPP API mendorong penerapan standar integritas yang seragam bagi seluruh personel, didukung sistem absensi berbasis pengenalan wajah, pemeriksaan kesehatan berkala, penerapan standar kebersihan, serta budaya kerja profesional guna meningkatkan kualitas pelayanan.
3. Perlindungan Investasi Mitra dan Kepastian Operasional Dapur. Menurut DPP API, banyak mitra telah melakukan investasi yang cukup besar dalam pembangunan serta penyediaan fasilitas dapur. Oleh karena itu, dapur yang telah memenuhi persyaratan administrasi maupun teknis diharapkan dapat segera dioperasikan agar investasi tersebut memberikan manfaat sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Program MBG.
4. Transparansi Pengelolaan Dana dan Pola Kemitraan DPP API mendorong sistem pengelolaan dan pembayaran yang lebih transparan, akuntabel, serta terdokumentasi dengan baik. Dengan demikian, hak seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program, termasuk insentif sewa dari penyedia fasilitas maupun pelaksana operasional, dapat diterima secara proporsional apabila memang dalam investasinya di lakukan bersama sama sesuai perannya.
5. Penguatan Pengawasan Gizi dan Evaluasi Menu, Pengawas gizi diharapkan tidak hanya menyusun menu berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG), tetapi juga melakukan evaluasi langsung terhadap tingkat penerimaan makanan oleh peserta didik di sekolah. Data sisa makanan dinilai dapat menjadi dasar penyempurnaan menu tanpa mengurangi nilai gizi, sekaligus menjaga kualitas, cita rasa, dan tampilan makanan.
6. Peningkatan Standar Higienitas dan Keamanan Pangan, API mengusulkan peningkatan standar sanitasi melalui penggunaan peralatan yang memenuhi standar, penyediaan air bersih yang sudah terfilter minimal Filter Sand Silica dan Filter Carbon yang layak, proses pencucian ompreng yang optimal, ruang pemorsian yang memadai, serta penerapan prosedur keamanan pangan secara konsisten di seluruh dapur MBG.
7. Penguatan Rantai Pasok Lokal Pengadaan bahan pangan diharapkan mengutamakan produk lokal yang berkualitas guna memberdayakan petani, peternak, nelayan, UMKM, serta pelaku usaha daerah. Langkah tersebut dinilai dapat menjaga kualitas bahan baku sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi.
8. Pengelolaan Lingkungan Berbasis Ekonomi Sirkular, DPP API mendorong pengelolaan limbah organik melalui budidaya maggot di lingkungan sekolah maupun komunitas di sekolah dan lingkungan Dapur MBG. Sementara limbah daur ulang dan minyak jelantah diusulkan dikelola bersama termasuk melibatkan Tim Penggerak PKK di tingkat RT sesuai wilayah operasional dapur MBG, sehingga memberikan nilai ekonomi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.
9. Penguatan Sistem Distribusi di Sekolah, DPP API berharap Distribusi makanan dinilai perlu didukung dengan fasilitas penyimpanan sementara yang ber-ac dan higienis, penggunaan pallet plastik sebagai alas penyimpanan, serta koordinasi yang lebih baik antara sekolah dan petugas distribusi agar kualitas makanan tetap terjaga hingga diterima peserta didik.
10. Kolaborasi dan Penyempurnaan Berkelanjutan, DPP API menilai keberhasilan Program MBG memerlukan sinergi yang kuat antara BGN, pemerintah daerah, sekolah, yayasan, mitra pelaksana, serta masyarakat. Kolaborasi yang berkelanjutan diyakini akan memperkuat profesionalisme, transparansi, dan keberlanjutan program dalam mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.
Marinaningsih menegaskan kepercayaan bahwa seluruh rekomendasi tersebut merupakan hasil evaluasi dan pengalaman para pelaksana Program MBG di lapangan.
“Seluruh masukan ini merupakan kontribusi konstruktif dari para yayasan, mitra, relawan, dan pengelola Dapur MBG yang selama ini terlibat langsung dalam pelaksanaan program. Kami berharap rekomendasi ini dapat menjadi bahan penyempurnaan tata kelola Program MBG agar semakin efektif, profesional, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, DPP API meyakini bahwa komunikasi yang terbuka, evaluasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program strategis nasional.
“Dengan kepemimpinan Kepala BGN RI Sudaryono, kami optimistis Program MBG akan semakin dipercaya masyarakat, memiliki tata kelola yang lebih baik, dan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia serta mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” pungkas Marinaningsih. (*)





