JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah (MA) Qudsiyyah Kudus, M Luqman Hakim, sukses mengamankan tiket menuju kompetisi internasional Arabic Reading Challenge (ARC) di Dubai, yang rencananya digelar Oktober mendatang. Kepastian ini didapat setelah remaja asal Margorejo, Pati tersebut berhasil meraih Juara 2 pada babak grand final tingkat nasional.
Pendamping siswa sekaligus Guru BK MA Qudsiyyah, Muhammad Zidni Illma Hafi menjelaskan, ajang bergengsi besutan pemerintah Dubai ini berlangsung maraton sejak Maret hingga Juli. Dari 50 pendaftar awal se-Indonesia, hanya 18 peserta yang mampu menyelesaikan syarat berat yaitu merangkum minimal 25 kitab berbahasa Arab.
‘’Tahapan seleksi sangat ketat. Dari 18 orang dikerucutkan lagi menjadi 12 besar per tingkat sekolah. Di level SMA, Luqman meraih Juara 1 nasional,’’ ujar Zidni didampingi guru bahasa Arab, Muhammad Ali Mustaan, di sekolahnya, Kamis (30/7).
Lanjutnya, pada babak grand final 10 besar, seluruh tingkatan sekolah (SD, SMP, SMA) dilebur menjadi satu. Melalui wawancara langsung via Zoom oleh panitia ARC Indonesia pada 5 Juli dan panitia pusat Dubai pada 7 Juli, Luqman berhasil keluar sebagai yang terbaik kedua.
‘’Tahun ini, hanya Juara 1 dan 2 yang berhak mewakili Indonesia ke Dubai,’’ imbuhnya.
Adapun kitab yang dirangkum Luqman antara lain membahas riwayat hidup Sayyidah Khadijah Ummul Mukminin, sejarah Abu Bakar As-Siddiq, hingga kontribusi Imam Al-Ghazali. Hebatnya, Luqman kini membidik target pribadi untuk merangkum hingga 50 kitab sebelum bertolak ke Timur Tengah.
Guru Bahasa Arab MA Qudsiyyah, Muhammad Ali Mustaan menegaskan, pihak madrasah kini fokus memberikan pendampingan khusus. Terutama penguatan komunikasi lisan agar luwes saat menghadapi Munakosah (interview) langsung dengan dewan juri di Dubai nanti.
Sementara itu, M. Luqman Hakim mengaku sempat pesimistis karena ketatnya persaingan. Namun, modal ilmu nahwu dan shorof yang ia pelajari di Pondok Pesantren Al-Maimuniyyah Langgardalem di bawah asuhan KH. Muhammad Naf’an menjadi kunci suksesnya memahami teks Arab gundul.
‘’Senang sekali bisa berkontribusi untuk madrasah. Tantangan terbesarnya adalah memahami kosakata baru dan konsistensi merangkum kitab,’’ pungkas santri yang juga pernah menembus kompetisi nasional MQK Kemenag saat jenjang MTs tersebut. (han/rit)





