Dorong Penyediaan Ruang Laktasi di Pabrik dan Pusat Perbelanjaan


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus bersama Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Kudus berkomitmen pemenuhan ASI eksklusif guna menekan angka stunting. Pemerintah daerah kini membidik sektor swasta, mulai dari pabrik hingga pusat perbelanjaan, untuk wajib menyediakan ruang laktasi yang representatif.

Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, menegaskan bahwa pemberian ASI eksklusif selama 0-6 bulan hingga dilanjutkan 2 tahun merupakan hal mutlak yang tidak boleh diabaikan. Kondisi ibu yang bekerja tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pemenuhan nutrisi bayi.

‘’ASI itu nomor satu, wajib hukumnya demi pengentasan stunting di Kudus. Ibu bekerja harus difasilitasi untuk memerah ASI. Selama proses memerah terus dilakukan secara konsisten, produksi ASI akan tetap terjaga,’’ ujar Endhah, usai membuka Workshop Pekan ASI Sedunia, di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (4/8)

Baca juga:  Dindikpora Rembang Perkuat TPPKSP Antisipasi Bullying Di Sekolah

Dalam kesempatan itu, Endhah meminta 150 kader PKK yang hadir dalam forum tersebut untuk menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing. Serta mendorong agar lingkungan kerja memberikan ruang dan waktu, bagi para ibu untuk memerah serta menyimpan ASI mereka selama jam kerja.


‘’Kami minta perusahaan memberikan waktu untuk para ibu-ibu memerah ASI dan menyimpankan di freezer,’’ imbuhnya.

Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam menambahkan, bahwa DKK Kudus tengah mengkaji penyusunan regulasi daerah berupa Peraturan Bupati. Regulasi ini nantinya akan mewajibkan seluruh pabrik di Kudus menyediakan ruang laktasi khusus yang dilengkapi dengan fasilitas pendingin (freezer).

‘’Selain itu, stres fisik dan psikis pada ibu bekerja sangat memengaruhi produksi ASI. Oleh karena itu, kehadiran suami untuk mendampingi dan dukungan fasilitas dari tempat kerja menjadi krusial. Kami ingin memastikan setiap pabrik menyediakan tempat perah dan kantong penyimpanan ASI,’’ kata dr. Hakam.

Baca juga:  Setiap Pemohon SIM di Kudus Mendapatkan Pelayanan Vaksinasi Secara Gratis

Menurut dr. Hakam, daya tahan ASI perah sangat bergantung pada media penyimpanan. ASI yang disimpan di lemari es biasa bertahan hingga 2 hari, sementara di dalam freezer mampu bertahan hingga 3 bulan. Fasilitas inilah yang harus didekatkan ke para pekerja buruh perempuan di Kudus.

Terkait pembiayaan pengadaan fasilitas laktasi dan kantong ASI di perusahaan, DKK Kudus menyarankan pihak manajemen untuk memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Selain menyasar sektor industri manufaktur, DKK Kudus juga akan melakukan audit ketersediaan ruang menyusui di area publik dan pusat perbelanjaan, seperti kawasan Alon-Alon, masjid, hingga pusat perbelanjaan Ramayana.

‘’Pemenuhan ASI di bawah usia 2 tahun dinilai menjadi kunci utama penyempurnaan sistem saraf anak demi mencetak generasi emas Kudus yang berkualitas,’’ tutupnya. (han/rit)


TERKINI

XL Sabet Empat Penghargaan Ookla


Rekomendasi

...