JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Tengah menggelar lomba pengolahan makanan berbahan dasar sorgum di Pondok Pesantren (Ponpes) Barokah, Nandan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Minggu (23/8).
Kegiatan skala provinsi yang menunjuk DPD LDII Sukoharjo sebagai tuan rumah ini diikuti oleh 22 tim perwakilan DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Para peserta menunjukkan kreativitas tinggi dengan menyulap pangan alternatif tersebut menjadi aneka ragam kuliner modern dan tradisional. Beberapa olahan yang disajikan di antaranya cookies, kimbab, susu, cake, tempe, kue tart, bakso, dawet, hingga donat.
Ketua Panitia, Okha Ferdiyan Putra, S.Farm., Apt., menjelaskan bahwa perlombaan ini melibatkan tim penilai dari berbagai unsur, mulai dari akademisi UIN, praktisi kuliner, hingga perwakilan TP PKK Kabupaten Sukoharjo. Penilaian dilakukan secara komprehensif mencakup tujuh kriteria utama.
“Indikator penilaian meliputi pemanfaatan sorgum, rasa dan mutu sensori, inovasi, tampilan penyajian, higienitas, potensi usaha dan harga jual, hingga presentasi di hadapan juri. Seluruh tim peserta akan mendapatkan apresiasi, dan satu tim terpilih menjadi juara umum,” jelas Okha.
Ia menambahkan, program ini rencananya akan diproyeksikan menjadi agenda rutin berkala oleh DPW LDII Jateng guna memperkuat kampanye diversifikasi pangan lokal.
Plt Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, yang hadir langsung mengapresiasi inovasi pangan berbasis bahan lokal tersebut. Menurutnya, sorgum menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk UMKM yang bernilai jual tinggi.
“Sorgum ini sangat adaptif, akarnya kuat dan dalam sehingga bisa tumbuh optimal di lahan-lahan tidur yang minim air. Melalui ajang ini, kita melihat langsung contoh nyata bahwa diversifikasi pangan itu ada dan sangat menarik,” ujar Eko Sapto.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., menegaskan bahwa penguatan komoditas sorgum menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada terigu impor.
“Komoditas sorgum ini kerap terlupakan dibanding beras dan jagung. Padahal, jika produktivitas petani ditingkatkan dan didukung bimbingan UMKM dari pemerintah, harga olahan sorgum bisa sangat bersaing dan sehat,” kata Prof. Singgih.
Ia berharap adanya kolaborasi yang padu antara pemerintah, akademisi, pengusaha, dan kelompok masyarakat untuk membangun ekosistem pangan lokal yang berkelanjutan.
Acara tersebut turut disaksikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto, Ketua TP PKK Kabupaten Sukoharjo Fitria Eko Sapto, Kepala Dinas Pangan Kabupaten Sukoharjo, Ketua DPD LDII Sukoharjo Dalono Abdul Rosyid, serta jajaran pengurus dan Dewan Penasihat LDII. (dea/rit)





