Meron Sukolilo, Tradisi Sakral yang Lahir dari Kisah Perlawanan


JATENGPOS.CO.ID, PATI – Tradisi Meron di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, bukan sekadar kirab gunungan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu menyimpan kisah sejarah perlawanan terhadap kekuasaan Mataram Islam pada abad ke-17.

Setiap tahun, masyarakat Sukolilo mempertahankan kemegahan 13 gunungan yang menjadi ikon utama Tradisi Meron. Gunungan tersebut disusun dengan berbagai ornamen khas dan hasil bumi yang sarat makna filosofis.

Ketua Lembaga Adat Desa (LAD) Meron, Mohammad Shoban Rahman, menjelaskan nama Meron dipercaya berasal dari gabungan kata rame dan tiruan. Istilah tersebut menggambarkan masyarakat Sukolilo yang meniru kemeriahan tradisi Gerebeg Maulid di Keraton Mataram.

“Niru sing ning Kraton Mataram, meron ramene ron-teron-teron (ramainya tiruan). Meniru dari Mataram,” ujar Shoban, Kamis (27/8).

Menurutnya, tradisi tersebut bermula dari kisah Bupati Pati Joyokusumo yang menolak membayar upeti kepada Mataram. Penolakan itu kemudian memicu konflik antara Pati dan Mataram hingga menewaskan Joyokusumo.

Dalam perjalanan pulang, prajurit Mataram disebut berhenti dan beristirahat di Sukolilo bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi. Masyarakat kemudian mengabadikan suasana kemeriahan perayaan di keraton tersebut dalam bentuk tradisi yang hingga kini dikenal sebagai Meron.

Bagi masyarakat Sukolilo, Meron merupakan tradisi sakral yang memiliki pakem adat. Salah satunya, seluruh rangkaian acara inti harus selesai sebelum masuk waktu salat Ashar.

Persiapan 13 gunungan dilakukan secara gotong royong dan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Struktur gunungan memiliki susunan dan filosofi tersendiri.

Baca juga:  Pemkab Kudus Kandangkan Kendaraan Dinas Selama Libur Lebaran

Bagian paling atas dihiasi ornamen berbentuk ayam jantan atau jago yang melambangkan prajurit. Di bagian tersebut juga terdapat simbol modin yang merepresentasikan masjid. Bagian tengah diisi uncek, yakni bentuk kerucut yang dibuat dari ketan dan kerasa. Sementara bagian bawah berupa nasi lengkap dengan berbagai lauk-pauk.

Pembuatan ornamen berbahan ketan tersebut juga sangat bergantung pada kondisi cuaca. Bahan ketan harus dikeringkan secara optimal agar tidak pecah ketika digoreng.

“Alasan pertama, pembuatan harus merujuk pada musim panas. Kalau keringnya tidak optimal karena tidak terkena matahari, hasilnya jadi jelek dan tidak bisa dipakai,” jelas Shoban.

Proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 36 hari. Setelah itu, bahan ketan dirangkai menjadi berbagai ornamen gunungan. Tahapan tersebut membutuhkan ketelitian dan keterampilan khusus karena setiap bagian harus dibuat sesuai pakem.

Pada puncak acara, kerangka gunungan dikeluarkan dari rumah Kepala Desa Sukolilo pada 1 Mulud. Sekitar pukul 10.30 WIB, gunungan kemudian digotong secara estafet oleh enam hingga 10 warga menuju jalur masing-masing di kawasan Masjid Baitul Yaqin Sukolilo.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan sejarah Meron, sambutan pejabat, doa bersama, hingga puncaknya berupa rebutan gunungan oleh masyarakat.

Hasil bumi yang terdapat dalam gunungan diyakini membawa berkah. Sebagian warga bahkan menyimpan hasil gunungan selama setahun atau membawanya ke lahan pertanian dengan harapan memperoleh hasil panen yang melimpah.

Baca juga:  Disdukcapil Kudus Targetkan Layanan Cetak KTP-e Mandiri Beroperasi Bulan Maret

“Ya ada kepercayaan membawanya ke lahan pertanian. Masyarakat yakin akan mendatangkan panen raya, sebelum akhirnya diperebutkan usai doa bersama,” paparnya.

Di tengah perkembangan zaman, pelaksanaan Meron juga dipadukan dengan kreativitas masyarakat. Menjelang puncak acara, digelar berbagai kegiatan seperti karnaval budaya, pawai kreasi yayasan pendidikan, kesenian lokal hingga pertunjukan sound horeg.

Namun, LAD Meron tetap memberlakukan aturan untuk menjaga kesakralan prosesi inti. Volume sound system dibatasi dan seluruh musik maupun sound wajib dimatikan ketika memasuki kawasan Masjid Baitul Yaqin.

Sementara itu, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menegaskan Meron bukan hanya milik masyarakat Desa Sukolilo, tetapi merupakan bagian dari kekayaan adat Kabupaten Pati.

“Acara Meron bukan hanya acara Desa Sukolilo, melainkan acara adat Kabupaten Pati yang harus kita lestarikan bersama untuk anak cucu kita,” kata Chandra saat menghadiri Tradisi Meron Sukolilo 2026, Kamis (27/8).

Pemkab Pati, lanjutnya, akan memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Meron pada tahun-tahun mendatang. Selain menjaga kelestarian budaya, kegiatan tersebut dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui pertumbuhan UMKM.

Chandra juga mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Menurutnya, penguatan budaya harus dibarengi dengan pemahaman sejarah agar generasi penerus mengenal akar budaya daerahnya.(Ida/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...