Rombak Jembatan Jojo-Kesambi Dikucuri Rp4,9 Miliar


JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) resmi memulai proyek perombakan total Jembatan Jojo-Kesambi. Infrastruktur vital ini diperbaiki secara menyeluruh guna mengatasi masalah banjir tahunan, dan kerusakan struktur yang dinilai sudah sangat mengkhawatirkan. Proyek ini dikucuri Rp4,9 miliar dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Pemkab Kudus Tahun 2026.

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kudus, Harry Wibowo, melalui Kepala Bidang Bina Marga sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Supriyadi, menjelaskan bahwa perbaikan ini merupakan respons atas aspirasi masyarakat yang sudah lama dinantikan. Sebelumnya, usulan anggaran sempat diajukan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) namun belum berhasil lolos, hingga akhirnya dialokasikan melalui dana cukai.

‘’Pekerjaan fisik sudah dimulai sejak penandatanganan kontrak pada 27 Juli lalu, dan ditargetkan rampung sepenuhnya dalam waktu empat bulan, yakni pada 23 November mendatang,’’ ujar Supriyadi, Rabu (26/8).

Supriyadi memaparkan, pembongkaran total dilakukan karena struktur abutment (pilar penyangga tepi, red) jembatan lama sudah mengalami kerusakan parah. Selain itu, desain jembatan lama dinilai sudah tidak ideal untuk menampung volume dan debit air sungai saat musim hujan.

Mengingat jembatan lama yang hanya memiliki bentang panjang 12 meter dan lebar kurang dari 3 meter tersebut ditopang oleh pilar di tengah sungai. Keberadaan pilar tengah ini kerap menyumbat sampah dan memperparah luapan air. Pada struktur baru, jembatan akan menggunakan teknologi girder pabrikasi baja siap pasang dengan spesifikasi material yang ditingkatkan dari kekuatan grid 250 menjadi grid 345 MPa.

Baca juga:  Pemkab Pati Kukuhkan 242 Kepala UPTD Satuan Pendidikan

‘’Desain baru ini akan memperpanjang bentang jembatan menjadi 15 meter tanpa pilar di tengah sungai, sehingga aliran air dipastikan bebas hambatan. Lebar efektif lalu lintas juga diperluas secara signifikan menjadi 8 meter agar kendaraan dari dua arah bisa melintas bersamaan dengan ruang manuver yang aman,’’ urai Supriyadi.

Antisipasi banjir juga dilakukan dengan menaikkan lantai jembatan setinggi satu meter dari elevasi semula. Langkah ini diambil karena air sungai kerap melimpas di atas jembatan lama saat intensitas hujan tinggi. Dengan peninggian satu meter, posisi lantai jembatan dipastikan berada aman di atas tanggul sungai.

Peninggian jembatan setinggi satu meter tentu berdampak pada struktur jalan pendekat (oprit). Pihak Dinas PUPR menegaskan akan menerapkan penataan secara kondisional di lapangan agar kelandaian jalan baru tidak mengganggu akses rumah-rumah warga di sekitar permukiman.

‘’Kami pastikan penataan oprit dilakukan fleksibel melihat situasi riil di lapangan. Tidak berarti jalan di depan rumah warga langsung amblas atau terjal begitu saja. Struktur elevasi di kawasan permukiman akan disesuaikan secara bertahap demi kenyamanan warga,’’ tambahnya.

Saat disinggung mengenai alasan prioritas pembangunan Jembatan Jojo-Kesambi (jembatan nomor 10) dibanding jembatan lainnya, Supriyadi menjelaskan status kepemilikan aset jalan.

Baca juga:  Pemkab Kudus Siapkan Tempat Relokasi Sebelum Diberlakukannya Zona Larangan PKL

‘’Jembatan ini berada di bawah kewenangan penuh Pemerintah Kabupaten Kudus karena terletak pada ruas jalan kabupaten. Sementara jembatan nomor 1 sampai 9 berada di luar kewenangan kabupaten, di mana sebagian besar di antaranya dibangun secara swadaya oleh pihak desa,’’ jelasnya.

Hingga pekan ini, progres pengerjaan di lapangan dilaporkan mengalami keterlambatan atau deviasi minus sebesar 3,8 persen. Dari rencana awal target progres sebesar 4,4 persen, realisasi saat ini baru mencapai kisaran angka tersebut akibat adanya kendala teknis pada tahapan persiapan.

Keterlambatan dipicu oleh proses relokasi jaringan utilitas publik yang berada di area jembatan, meliputi pemindahan pipa distribusi air bersih milik PDAM serta pemindahan tiang dan kabel jaringan listrik milik PLN. Proses evakuasi infrastruktur tersebut memakan waktu sehingga menunda jadwal pembongkaran jembatan lama serta penggalian struktur abutment baru.

Meski demikian, pihak PUPR optimistis sisa waktu tiga bulan ke depan sangat cukup untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Mengingat pengerjaan baru berjalan kurang dari satu bulan, percepatan akan dilakukan begitu material girder pabrikasi tiba di lokasi.

‘’Kendala utilitas sudah teratasi. Kami optimistis sisa waktu kontrak dapat dimaksimalkan dengan baik, dan proyek jembatan baru ini bisa selesai tepat waktu untuk segera dimanfaatkan oleh masyarakat luas,’’ pungkas Supriyadi. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...