27.8 C
Semarang
Minggu, 19 April 2026

Chandra Sulap Bekas Kantor Satpol PP jadi Rumah Artefak Leluhur




JATENGPOS.CO.ID, PATI – Sejarah Kabupaten Pati yang selama ini terserak di berbagai daerah bakal segera punya rumah sendiri.

Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra turun langsung meninjau bekas Kantor Satpol PP di Jalan RA Kartini, Kamis (16/4/2026).

Gedung yang berada tepat di belakang Kantor Bupati Pati itu akan direvitalisasi menjadi Museum Cagar Budaya Kabupaten Pati.

Revitalisasi ini bukan sekadar proyek fisik. Chandra menyebut museum tersebut sebagai ikhtiar memulangkan identitas Pati.


Selama puluhan tahun, banyak benda pusaka, naskah kuno, dan artefak peninggalan leluhur Pati justru tersimpan di luar wilayah. Sebagian ada di museum pribadi di Yogyakarta, sebagian lain tercatat di koleksi Museum Ronggowarsito Semarang, bahkan ada yang disimpan kolektor di Kudus.

“Kantor Satpol PP ini akan kita renovasi, kita jadikan Museum Cagar Budaya Kabupaten Pati. Karena ternyata kita masih banyak benda-benda pusaka ataupun warisan budaya Kabupaten Pati yang tersebar di berbagai tempat,” kata Chandra saat diwawancarai di lokasi.

Pemkab Pati kini menyiapkan tim khusus untuk menginventarisasi dan melobi pemulangan artefak tersebut. Chandra optimistis, dengan adanya gedung museum yang representatif, pemilik maupun lembaga yang selama ini menyimpan benda bersejarah Pati akan lebih terbuka menitipkan atau menghibahkan koleksinya.

Baca juga:  LAZISNU Kudus Berikan 1.500 Paket Bantuan untuk Warga Kurang Mampu

“Nanti kita letakkan di sini, sehingga masyarakat Pati, adik-adik sekolah bisa mempelajari sejarah daerahnya sendiri. Insya Allah segera kita realisasikan,” ujarnya.

Konsep Museum Cagar Budaya ini dirancang sebagai ruang publik yang inklusif. Tidak ada tiket masuk, terutama bagi pelajar. Chandra ingin museum menjadi ekstensi ruang kelas bagi sekolah di Pati. Selama ini, guru sejarah kerap kesulitan mencari lokasi _outing class_ tematik. Pilihan paling dekat biasanya ke Museum Ronggowarsito di Semarang atau ke Kudus.

Dengan adanya museum sendiri, biaya studi lapangan bisa ditekan dan frekuensinya ditingkatkan. Materi yang disajikan juga spesifik tentang Pati, mulai era kerajaan, masa kolonial, hingga tokoh-tokoh lokal yang jarang masuk buku teks.

Langkah Pemkab Pati tidak berhenti di pembangunan gedung. Museum ini akan diintegrasikan dengan kawasan Pendopo Kabupaten Pati yang sudah lebih dulu dibuka sebagai ruang terbuka edukatif. Pendopo kini rutin dipakai untuk outing class. pemerintahan, tempat siswa belajar tentang struktur birokrasi dan kepemimpinan daerah.

Baca juga:  Pemkab Kudus Siapkan Anggaran Rp30 Miliar untuk THR dan Gaji Ke-13 ASN dan PPPK

Chandra membayangkan satu alur kunjungan: siswa datang ke pendopo untuk memahami cara kerja pemerintah hari ini, lalu bergeser ke museum untuk melihat akar sejarahnya.

“Saya berharap nantinya museum ini akan jadi satu paket wisata edukatif dengan pendopo,” ucapnya.

Integrasi itu juga bertujuan mendekatkan warga dengan pusat pemerintahan. Masyarakat bisa datang bukan hanya untuk urusan administratif, tetapi juga untuk rekreasi sambil belajar. Harapannya, kedekatan fisik ini menumbuhkan kedekatan emosional.

“Sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta dan kebanggaan terhadap daerah sendiri,” pungkas Chandra.

Pemkab menargetkan proses desain dan renovasi dimulai dalam tahun anggaran berjalan. Bangunan eks Kantor Satpol PP dinilai masih kokoh dan lokasinya sangat strategis. Tim ahli cagar budaya, sejarawan lokal, dan kurator museum akan dilibatkan sejak awal agar tata pamer dan narasi sejarahnya kuat.

Jika berjalan sesuai rencana, Pati akan memiliki museum daerah pertama yang dikelola langsung oleh pemerintah kabupaten. Keberadaannya diharapkan memutus mata rantai hilangnya benda sejarah sekaligus menjadi ruang dialog generasi muda dengan warisan leluhurnya.(Ida/rit)




TERKINI




Rekomendasi

...

Soal ASN Bolos Kerja, Komisi A Desak...

Gas Air Mata Pukul Mundur Aksi Unjuk...

AHHA PS Pati FC Minta Restu Bupati