Keseruan Wilujengan 321 Tahun Ambarawa, Bupati Semarang Turut Berebut Gunungan 


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Halaman Kantor Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Rabu (9/9/2026) malam berubah menjadi ruang kebersamaan. Warga dari berbagai unsur berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan untuk memperingati Hari Jadi ke-321 Ambarawa. Bukan sekadar seremoni tahunan.

Wilujengan atau syukuran Hari Jadi Ambarawa menjadi momentum untuk kembali mengingat perjalanan panjang wilayah tersebut sekaligus merawat semangat kebersamaan yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.

Di antara warga yang memadati halaman kantor kecamatan, hadir Bupati Semarang H Ngesti Nugraha. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari perayaan yang dikemas sederhana, tetapi sarat dengan pesan tentang persatuan, gotong royong dan harapan terhadap masa depan Ambarawa.

Ngesti Nugaraha mengatakan, usia 321 tahun merupakan perjalanan panjang yang tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan masyarakat.

Menurutnya, kemajuan sebuah wilayah tidak cukup hanya dibangun melalui pembangunan fisik maupun program pemerintah. Kekuatan masyarakat untuk bersatu dan saling membantu menjadi modal penting dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

“Semoga dengan persatuan dan kesatuan seluruh warga, Ambarawa semakin maju dan masyarakatnya semakin sejahtera,” kata Ngesti Nugraha saat menyampaikan sambutan.

Ia berharap semangat kebersamaan yang terlihat dalam peringatan Hari Jadi Ambarawa tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai gotong royong yang tumbuh dari masyarakat perlu terus dipertahankan dan menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

Sebab, kata dia, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kemajuan daerah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Semangat kebersamaan seperti ini harus terus dijaga. Pemerintah dan masyarakat harus berjalan bersama untuk membangun Ambarawa,” ujarnya.

Baca juga:  Ditreskrimsus Ungkap Perdagangan Ilegal Burung Kasturi Kepala Hitam di Pelabuhan Juwana

Camat Ambarawa Wahyu Pito Nugroho mengungkapkan, pelaksanaan wilujengan Hari Jadi ke-321 Ambarawa memiliki keistimewaan tersendiri. Seluruh kegiatan tersebut, kata dia, murni berasal dari swadaya masyarakat dan berbagai komponen warga Ambarawa.

Tidak ada kesan bahwa peringatan hari jadi hanya menjadi agenda pemerintah. Sebaliknya, masyarakat mengambil peran langsung dalam menyiapkan dan menyukseskan kegiatan.

Menurut Pito, kondisi tersebut menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi bagian kuat dari kehidupan masyarakat Ambarawa.

“Hal ini menjadi perwujudan sikap gotong royong warga yang masih dijunjung tinggi di Ambarawa,” tegasnya.

Semangat itu terlihat dari keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam kegiatan. Mereka datang dan berkumpul bukan semata untuk menyaksikan acara, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Ambarawa.

Salah satu rangkaian kegiatan yang menarik perhatian adalah prosesi jamasan pusaka Kecamatan Ambarawa. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam wilujengan karena tidak hanya menyentuh aspek tradisi, tetapi juga berkaitan dengan keberadaan benda-benda pusaka yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat setempat.

Dalam prosesi tersebut, dilakukan jamasan terhadap sejumlah pusaka yang selama ini disimpan di Museum Kecamatan Ambarawa. Pusaka tersebut terdiri atas empat buah keris, empat buah mata tombak dan satu buah suduk maru. Pito menjelaskan, benda-benda tersebut merupakan pusaka yang berasal dari sumbangan masyarakat dan kemudian disimpan serta dirawat di museum milik Kecamatan Ambarawa.

“Pusaka itu merupakan sumbangan warga yang disimpan di museum Kecamatan Ambarawa,” jelasnya.

Baca juga:  Cerita Viky Indra Yanti Lulusan Profesi Ners UNW Ungaran Asal Bumi IKN: Tak Ingin Kompetensi Putra Daerah Kalah Daerah Lain

Jamasan menjadi simbol penghormatan sekaligus upaya merawat warisan budaya. Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak dan berubah, keberadaan pusaka-pusaka tersebut menjadi pengingat bahwa Ambarawa memiliki perjalanan sejarah panjang yang layak untuk terus dikenang.

Tradisi itu juga memperlihatkan adanya hubungan antara masa lalu dan masa kini. Pusaka yang diwariskan dan dirawat tidak hanya dipandang sebagai benda, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan cerita masyarakat Ambarawa.

Suasana semakin meriah ketika rangkaian wilujengan diwarnai tradisi rebutan hasil bumi yang ditata dalam Gunungan Ageng. Gunungan tersebut menjadi salah satu pusat perhatian warga. Beragam hasil bumi ditata sedemikian rupa hingga membentuk gunungan yang menjadi simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan hasil kehidupan masyarakat.

Begitu prosesi mulai dibuka Bupati, warga langsung antusias berebut hasil bumi yang ada di Gunungan Ageng. Suasana yang sebelumnya berlangsung khidmat berubah menjadi semarak. Warga saling berusaha mendapatkan bagian dari hasil bumi yang dipercaya membawa makna keberkahan tersebut. Bupati juga turut berebut mendapatkan sesisir pisang kemudian diberikan kepada warga yang tidak mendapatkan.

Hari Jadi Ambarawa akhirnya bukan hanya tentang angka 321 tahun. Di dalamnya terdapat cerita tentang perjalanan sebuah wilayah, tradisi yang masih dipertahankan, pusaka yang dirawat, serta masyarakat yang terus menjaga semangat gotong royong.

Perayaan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya. Justru, tradisi dan kebersamaan dapat menjadi kekuatan untuk melangkah ke masa depan. (muz)


TERKINI

DKK Kudus Perketat Evaluasi Gizi Siswa

Rekomendasi

...