JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Di antara rimbunnya akar mangrove yang menahan abrasi, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi berbagai kehidupan, terdapat dunia lain yang nyaris tak pernah terlihat mata. Dunia itu dihuni organisme berukuran mikroskopis yang bekerja diam-diam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dunia kecil itulah yang mengantarkan Sekretaris Dewan Pembina Yayasan Ngudi Waluyo Ungaran, Dr. Lila Kusuma Rahayu, S.Si., M.Si., meraih gelar doktor.
Dr Lila berhasil menyelesaikan disertasi berjudul “Biodiversitas Khamir pada Ekosistem Mangrove Berbasis DNA Lingkungan dan Kultur Dependen yang Berpotensi untuk Bioremediasi Logam Berat.”
Penelitian tersebut tidak sekadar memotret keberagaman mikroorganisme di kawasan mangrove. Lebih jauh, riset itu mencoba membuka ruang baru untuk memahami organisme mikroskopis yang selama ini luput dari pengamatan sekaligus menggali potensinya dalam menjaga lingkungan.
Lima kawasan mangrove di pesisir utara Jawa Tengah menjadi lokasi penelitian Lila, yakni Brebes, Tegal, kawasan Tapak-Tugurejo Semarang, Demak, dan Jepara.
Dari penelitian itu, Dr Lila mengintegrasikan dua pendekatan, yakni kultur konvensional atau kultur dependen dengan teknologi environmental DNA (eDNA).
“Penelitian tentang biodiversitas mikroba di ekosistem mangrove masih sangat minim. Kalaupun ada, kebanyakan hanya menggunakan satu metode, yaitu kultur dependen,” ujar Lila seusai ujian disertasinya.
Menurut dia, penggunaan kultur konvensional memiliki keterbatasan. Mikroorganisme yang dapat teridentifikasi hanyalah organisme yang mampu tumbuh ketika dikultur di laboratorium.
Padahal, kondisi tersebut belum tentu menggambarkan keseluruhan komunitas mikroba yang hidup secara alami di ekosistem mangrove. Di sinilah eDNA memberikan perspektif berbeda.
Melalui pendekatan tersebut, materi genetik yang terdapat langsung di lingkungan, dalam penelitian ini berasal dari sedimen mangrove, diekstraksi untuk mengetahui komposisi komunitas mikroba yang ada di dalamnya.
“Kalau dulu penelitian biodiversitas harus mengkultur dulu. Sedimennya kita ambil, kemudian kita taruh di laboratorium. Itu tidak menggambarkan komunitas yang sesungguhnya karena yang dihitung hanya yang tumbuh di laboratorium,” jelasnya.
“Dengan eDNA, dari sedimen itu langsung kita ekstraksi DNA-nya. Dari situ kita bisa mengetahui komposisi komunitas mikroba, dalam hal ini khamir,” imbuhnya.
Khamir menjadi fokus Dr Lila karena mikroorganisme yang termasuk kelompok jamur tersebut dinilai memiliki potensi yang menarik untuk dikembangkan, termasuk sebagai bioindikator lingkungan dan organisme yang berpotensi membantu proses bioremediasi logam berat.
Ketika lingkungan mengalami tekanan atau pencemaran, perubahan komunitas mikroorganisme dapat menjadi salah satu petunjuk kondisi ekosistem.
Karena itu, penelitian Dr Lila tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa banyak jenis khamir yang ditemukan. Ia juga mencoba membuka pertanyaan lebih jauh mengenai fungsi dan potensi organisme tersebut bagi lingkungan.
“Misalnya, lingkungan itu sudah tidak sehat atau tercemar logam berat. Dalam hal ini saya mengambil khamir yang berpotensi untuk bioremediasi logam berat,” katanya.
Membaca yang tak Terlihat
Di balik penelitian tersebut tersimpan alasan lain yang membuat Lila tertarik menekuni khamir. Organisme ini kecil, bahkan tidak terlihat oleh mata manusia. Namun, ukuran bukan berarti menentukan besar kecilnya manfaat.
Pesan itulah yang kemudian menjadi salah satu benang merah yang disampaikan Promotor Prof. Dr. Dra. Tri Retnaningsih Soeprobowati, M.App.Sc., saat menyampaikan pesan seusai Dr Lila dinyatakan berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya.
Menurut Prof Tri, perjalanan ilmiah tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar doktor. Justru gelar tersebut menjadi pintu masuk menuju tanggung jawab yang lebih besar.
Ia menggambarkan mangrove sebagai ekosistem yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrem, mulai dari salinitas tinggi, perubahan pasang surut hingga berbagai tekanan lingkungan.
Di sisi lain, khamir bekerja dalam skala yang jauh lebih kecil dan nyaris tak terlihat. Namun keduanya menyampaikan pelajaran yang sama: sesuatu yang kecil dan tersembunyi tidak berarti tidak penting.
“Dalam sebuah ekosistem, setiap komponen memiliki tempat dan fungsi. Ada yang besar dan terlihat, ada yang kecil dan tersembunyi,” pesan Prof Tri.
Menurutnya, penelitian Dr Lila pada hakikatnya mencoba membuka dunia yang sebelumnya tersembunyi.
Pendekatan eDNA memungkinkan keragaman khamir yang tidak terungkap melalui kultur untuk mulai dikenali. Sementara pendekatan kultur dependen memberikan kesempatan untuk mempelajari sebagian mikroorganisme tersebut secara lebih mendalam, termasuk fungsi dan potensinya.
Teknologi, kata Prof Tri, bukan sekadar alat untuk menghasilkan data. Teknologi merupakan jendela untuk melihat kenyataan yang sebelumnya tersembunyi.
“Dari yang kecil, kita belajar memahami yang besar. Dari yang tidak terlihat, kita menemukan peran yang nyata. Dari biodiversitas, kita menemukan fungsi. Dan dari pengetahuan, kita menemukan jalan menuju kebermanfaatan,” tuturnya.
Ia pun berpesan agar Dr Lila tidak hanya menjadi ilmuwan yang mampu menemukan organisme tersembunyi, tetapi juga mampu melihat nilai dari sesuatu yang selama ini mungkin dianggap tidak penting.
Ilmu pengetahuan, lanjutnya, harus mampu menjembatani laboratorium dengan lapangan, biodiversitas dengan fungsi, sains dengan kebijakan, serta pengetahuan dengan aksi nyata.
“Jadilah suara bagi ekosistem yang tidak dapat bersuara. Bangun jejaring, terus belajar, dan gunakan ilmu pengetahuan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat pesisir,” pesannya.

Dari Laboratorium untuk Pesisir
Bagi Dr Lila, penelitian yang telah diselesaikannya masih merupakan langkah awal. Ia menyadari penelitian tersebut membutuhkan pengembangan lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih banyak serta pengambilan sampel lintas musim.
Sebab, penelitian yang dilakukan dalam satu periode pengambilan sampel belum cukup untuk menggambarkan dinamika komunitas mikroorganisme sepanjang tahun.
“Ke depan sampling harus lintas musim. Analisisnya tidak cukup hanya setahun, harus lebih lama,” ujarnya.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi baseline atau data dasar bagi pengembangan penelitian berikutnya. Harapan itu berkaitan erat dengan kondisi ekosistem mangrove di pesisir utara Jawa Tengah yang menghadapi beragam tekanan.
Dr Lila menyebut mangrove alami masih dapat ditemukan di Demak, sementara sejumlah kawasan lainnya telah mengalami rehabilitasi atau mendapat tekanan akibat perkembangan kawasan perkotaan.
Karena itu, penelitian mengenai mikroorganisme yang hidup di dalam ekosistem tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya konservasi dan rehabilitasi mangrove.
Apalagi, keberadaan mangrove memiliki fungsi ekologis yang luas, salah satunya dalam penyimpanan karbon.
“Mudah-mudahan ilmu ini bermanfaat. Tetapi memang harus diteliti lebih lanjut karena ini masih penelitian dasar, masih baseline. Kalau dilakukan lebih lanjut, kontribusinya sangat luas bagi masyarakat,” kata Dr Lila.
Ia juga menilai dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah, diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.
Jika kelak teknologi dan temuan mengenai khamir tersebut dapat diaplikasikan, Dr Lila berharap rehabilitasi kawasan mangrove dapat berjalan lebih baik dan pada akhirnya memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Cumlaude IPK 4,0 Prestasi Membanggakan
Perjalanan menuju gelar doktor itu sendiri bukan perjalanan singkat. Ketua Umum Dewan Pengurus Yayasan Ngudi Waluyo Ungaran, Prof. Dr. DYP Sugiharto, S.Hut., M.Sc., menyebut Dr Lila menyelesaikan pendidikan doktornya dalam waktu 3 tahun 7 bulan.
Lebih membanggakan lagi, Dr Lila meraih predikat cum laude dengan indeks prestasi kumulatif 4,0.
Menurut Prof Sugiharto, pencapaian tersebut merupakan buah dari perjuangan, kerja keras dan ketekunan Dr Lila, sekaligus tidak lepas dari dukungan serta layanan akademik yang diterimanya selama menjalani pendidikan.
“Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan Ibu sebagai pribadi, tetapi menjadi kebanggaan keluarga, kebanggaan yayasan, dan kebanggaan civitas Universitas Budi Waluyo,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan seorang doktor justru dimulai setelah gelar itu diperoleh.
“Lulus doktor bukan garis finis dalam perlombaan lari, melainkan start untuk menuju perlombaan yang menghasilkan karya dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan tiga pesan kepada Dr Lila. Pertama, menjadi doktor berarti terus berkarya setelah menyelesaikan pendidikan. Kedua, menjadi seperti pohon kelapa yang terus berbuah tanpa mengenal musim, bukan seperti pohon pisang yang hanya berbuah sekali lalu mati.
Ketiga, menjadi seperti menara air yang manfaatnya dapat dirasakan banyak orang, bukan menjadi menara gading yang hanya sibuk untuk dirinya sendiri. Pesan tersebut seolah bertemu dengan filosofi yang disampaikan promotor tentang khamir yang kecil, tersembunyi, tetapi memiliki fungsi. (muz)





