JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – POLA distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui jalur laut bukanlah hal baru bagi Pertamina. Melalui jalur laut, BBM hasil pengolahan dari sejumlah kilang minyak di Indonesia, dikirimkan menggunakan kapal tanker ke titik-titik tertentu.
Bagaimana proses pengirimannya hingga sampai ke Terminal BBM, JATENG POS pada Selasa (9/11/2021), berkesempatan mengintip langsung proses bongkar muatan BBM dari kapal tanker untuk kemudian dialirkan melalui Single Point Mooring (SPM) menggunakan pipa bawah laut. Lokasi SPM ini tepatnya berada di radius sekitar 9 kilometer dari bibir pantai Semarang.
Dengan menggunakan Mooring Boat milik divisi port Pertamina Trans Kontinental, setidaknya dibutuhkan waktu tempuh 35 menit untuk menuju ke SPM, dari dermaga khusus milik Pertamina, yang berada di Kawasan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Kebetulan saat itu Kapal Tanker Pertamina dari Pangkalan Brandan, Sumatera, tengah bersandar di SPM untuk membongkar muatan BBM.

Salah seorang crew Mooring Boat Patin 03, Yogi Triyono yang mengantar Jateng Pos mengatakan, setiap ada kapal tanker Pertamina akan merapat ke SPM, tim divisi port, baik kapal Tug Boat maupun Mooring Boat sudah harus siaga di lokasi. Fungsinya, memastikan situasi sekitar aman, dan memposisikan kapal tanker mendekati SPM.
“Jadi, kapal tanker yang mau bongkar muatan BBM itu kan tidak bisa langsung merapat ke dermaga pelabuhan karena ukurannya yang relatif besar. Sebagai gantinya, bongkar muatan BBM dilakukan di tengah laut, melalui SPM dan disalurkan lewat pipa bawah laut, untuk menuju ke Terminal BBM terdekat. Kalau di Semarang ini ke TBBM Pengapon,” katanya.
Dari pengamatan JATENG POS, kedatangan kapal tanker disambut oleh Tug Boat untuk dipandu merapat ke SPM. Lantas kapal Mooring Boat segera melalukan penambatan kapal tanker pada SPM.
“SPM itu dermaganya kapal tanker, dan disitu merupakan jalur utama pipa bawah laut,” singkatnya.
Setelah melalui proses pengecekan muatan, maka pipa dari kapal tanker akan dihubungkan ke SPM, yang dilakukan oleh crew dari Mooring Boat. Lantas, dengan sistem yang dioperasionalkan dari kapal tanker, BBM bisa mulai dialirkan masuk ke SPM menuju Terminal BBM Pengapon.
“Waktu penyaluran tergantung jumlah muatan, dari 3.000 KL sampai 20.000 KL, biasanya mulai dari 7 jam sampai 24 jam, bahkan lebih,” tukasnya.

Terpisah, Arief Budiono, Port Manager Pertamina Semarang mengatakan, divisi port Pertamina ini bertugas menghandle semua pekerjaan dari sisi laut, proses lepas sandar kapal tanker, maintenance dan port operation. Tak hanya itu, kelancaran distribusi, keamanan dan perlindungan jika terjadi tumpahan minyak juga menjadi tanggung jawabnya.
“Sesuai prosedur, kami mendapatkan jadwal kapal-kapal tanker yang akan lepas sandar di SPM Semarang itu dari Programmer Pertamina Pusat. Jadwal kedatangan kita yang monitor, dan diteruskan juga ke Terminal BBM Pengapon,” jelas Arief.
Menurut Arief, dalam setiap kedatangan tanker, pihaknya menggerakkan satu Tag Boat dan dua Mooring Boat untuk membantu proses sandar di SPM. Dalam sebulan, rata-rata dijadwalkan 10-15 kapal tanker BBM yang sandar di SPM.
“Kalau untuk pemindahan operasional bongkar muatan kapal itu tergantung jumlah kargo yang dibawa. Contoh 5.000 KL diperkirakan akan memakan waktu 7 jam untuk bisa sampai ke TBBM Pengapon,” ungkapnya.
Ditambahkan, SPM Semarang memiliki panjang pipa bawah laut mencapai 9 km dengan kedalaman sekitar 14 meter, untuk menuju TBBM Pengapon. Adapun kecepatan aliran pipa rata-rata 700-800 KL/jam.
“Produk BBM yang biasa dialirkan lewat SPM ini ada Pertamax, Pertamax Turbo, Pertalite, Dexlite, Pertamina Dex, maupun Bio Solar,” imbuhnya.

Dari beberapa supplay point BBM yang ada di Jateng-DIY, lanjutnya, hanya TBBM Pengapon yang distribusinya menggunakan kapal dan pipa bawah laut. Sedangkan untuk TBBM Rewulu, Boyolali, Tegal, Lomanis dan Sleko Cilacap, jalur pipa darat.
“Untuk pasokan BBM ke Semarang ini biasanya kapal tanker dari kilang Balikpapan, Cilacap, Dumai, Palembang, Balongan, Tuban, bahkan dari Singapura untuk produk tertentu,” bebernya.
Diakuinya, distribusi BBM lewat jalur laut memang banyak kendalanya, terutama yang berkaitan dengan alam. Jika terjadi emergency, maka penjadwalan kedatangan kapal bisa berubah dan biasanya akan dilakukan alih suplai dari jalur darat, untuk menghindari menipisnya pasokan BBM.
“Misal kalau cuaca ekstrim dan terlalu berbahaya, seperti gelombang tinggi, hujan dengan angin kencang, maka proses sandar ke SPM ditunda menunggu cuaca baik,” katanya.
Terkait keamanan SPM dan pipa bawah laut, Arief menuturkan, jalur pipa sudah masuk peta laut Indonesia. Dengan begitu, kapal-kapal yang berlayar sudah tahu posisi peta SPM dan jalur pipa. Selain itu juga sudah ada navigasi pelayaran, lampu dan radar.
“Kapal yang menggunakan radar akan tahu bahwa di situ ada SPM, kecuali kapal nelayan saja,” tuturnya
Adapun untuk maintenance, setiap 5 tahun biasanya akan dilakukan perawatan dan perbaikan sarana prasarana operasional SPM. Untuk itu, operasional sandar akan diberhentikan terlebih dahulu, dan biasanya nanti akan dilakukan alih suplai.
“Terakhir perbaikan SPM di tahun 2016, dan sekarang sudah mendekati perawatan lagi. Namun menunggu SPM 2 Semarang selesai dibangun,” ujarnya.
Dijelaskan, SPM 2 Semarang memiliki kapasitas sandar hingga 50.000 ton lebih besar dari SPM eksisting saat ini yang berkapasitas 35.000 ton. Lokasi SPM 2 Semarang berada sekitar 11 km dari bibir pantai.
“SPM 2 Semarang ini nantinyabuntuk sandar kapal yang memiliki muatan sampai 50.000 ton dan direncanakan mulai dioperasionalkan pada awal 2022. SPM 2 Semarang memiliki jalur pipa bawah laut tersendiri untuk menuju ke TBBM Pengapon,” jelasnya.

Senior Supervisor Communication and Relation Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Marthia Mulia Asri mengungkapkan, pasokan BBM dari kapal tanker yang disalurkan melalui pipa bawah laut menuju TBBM Pengapon rata-rata dalam sebulan bisa mencapai 110.000 KL. Produk tersebut kemudian disalurkan dari TBBM Pengapon ke 283 SPBU, 15 SPBUN, 5 SPBB, 1 APMS (Agen Premium dan Solar), serta 144 Pertashop.
“Pasokan BBM di TBBM Pengapon biasanya untuk melayani konsumsi masyarakat di wilayah Jateng bagian utara,” ungkapnya.
Sementara, Pertamina terus berkomitmen untuk terus memenuhi kebutuhan energi masyarakat secara berkelanjutan.(Aning Karindra)
Siaga 24 Jam, Menantang Ombak dan Angin

GELOMBANG tinggi dan angin kencang menjadi santapan harian bagi Yogi Triyono (38). Pekerja Pertamina divisi port yang kini bertugas sebagai crew juru mesin di Mooring Boat Patin 03 ini pun harus siap sedia selama 24 jam untuk memastikan proses lepas sandar kapal tanker untuk distribusi BBM Pertamina lewat jalur pipa bawah laut berjalan lancar.
Sudah sejak 2009, bapak 2 anak asal Cilacap, Jawa Tengah ini bertugas di kapal, di bawah bendera PT Pertamina Trans Kontinental. Sebelumnya, selama 8 tahun Yogi bertugas di Tug Boat di Cilacap, dan baru 4 tahun terakhir ini beralih ke Mooring Boat di Semarang.
“Salah satu tantangan berat yang harus dihadapi yakni soal cuaca. Hujan, angin, gelombang tinggi, harus siap dihadapi sewaktu-waktu saat berada di tengah lautan. Itu biasanya angin barat pada periode Desember sampai Maret, posisi ombak bisa 3-4 meter,” kata Yogi, yang merupakan lulusan SMK Pelayaran.
Padahal, lanjutnya, saat ada tanker akan merapat ke Single Point Mooring (SPM) di tengah laut, entah itu pagi, siang, sore, malam, Mooring Boat bersama Tug Boat harus harus segera menuju ke lokasi. Mooring boat sendiri merupakan kapal yang berfungsi untuk sarana bantu pemanduan, khususnya menambatkan kapal tanker ke SPM.
“Dalam penambatan dan lepas kapal wajib dipandu. Apalagi untuk kapal-kapal besar yang panjangnya lebih dari 30 meter. Tugas awak Mooring Boat inilah yang nanti akan menambatkan tali dari tanker ke SPM, termasuk menyambungkan pipa,” ujarnya.
Menurutnya, di SPM ini jugalah kapal tanker melakukan serah terima muatan BBM untuk kemudian disalurkan melalui pipa bawah laut menuju ke Terminal BBM. Dalam sebulan, sedikitnya 20-30 kali kapal tanker Pertamina akan merapat di SPM Semarang, yang berada sekitar 9 kilometer dari bibir pantai.
“SPM ini merupakan pengganti dermaga untuk bongkar muat BBM dari kapal tanker ke tanki TBBM Pengapon melalui pipa bawah laut. Sekali bongkar muatan bisa memakan waktu 7-24 jam, bahkan lebih, tergantung banyaknya muatan,” tukasnya.
Sebagai pekerja Pertamina divisi port, imbuh Yogi, tugas yang dijalaninya tersebut merupakan bagian dari komitmen dalam mengamankan pasokan energi, khususnya BBM bagi masyarakat.
“Ini sudah jadi tugas dan komitmen kami para pekerja Pertamina divisi port untuk memastikan kelancaran distribusi BBM bagi masyarakat, mulai dari tengah laut,” tandasnya.(Aning Karindra)













