Jalan Rusak Puluhan Tahun Petani Ngamuk

Warga saat aksi unjuk rasa di jalan pertanian Kebonromo - Gabus, Ngrampal, Sragen. Foto: ARI SUSANTO / JATENG POS

JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Puluhan petani ngamuk demo menuntut perbaiki akses jalan pertanian di Dukuh Baok Kebonromo, Ngampral, Sragen, Senin (12/6) sekitar pukul 09.00 WIB. Para petani dalam aksi unjuk rasa mengungkapkan, selama 69 tahun, Pemkab Sragen tak pernah memperhatikan jalan kabupaten tersebut. Tak pelak jalan bagi para petani ini kondisinya nyaris hilang tergerus air.

Salah satu petani, Heru menyampaikan selama bertahun-tahun yang sudah mengusulkan kepada pemerintah Kabupaten Sragen, mengaku hanya diberikan janji-janji semata.

“Sejak jaman Belanda mas, jalan ini belum pernah tersentuh pembangunan. Petani sangat susah sekali saat musim panen. Kita disuruh bayar pajak ya gak pernah telat, tapi kenapa saat kita sampaikan aspirasi gak pernah digubris,” tandas Heru.

Baca juga:  Pers Garda Depan Penyebaran Informasi di Tengah Pandemi

Di sisi lain, Heru bersama dengan puluhan petani mengancam apabila Pemkab Sragen tak menindaklanjuti aspirasinya. Ratusan petani yang di wilayah Desa Kebonromo dan Desa Gabus bakal duduki kantor Pemkab Sragen.

iklan

“Kita sudah tidak ada tawar menawar lagi, kalau tidak mau dibangun ya sudah! terjunkan eksafator saja dan jalan ini dijadikan sungai saja. Sekali lagi! kalau tidak ada pembangunan kita akan duduki kantor Pemda Sragen dengan pakaian yang kotor, biar tau susahnya jadi petani,” imbuhnya.

Terpisah, Tono selaku anggota DPRD Sragen yang sejak lama mendapat keluhan dari para petani sudah menyampaikan Pemkab Sragen.

“Berpuluh – puluh tahun, jalan pertanian itu memang belum pernah, bahkan sama sekali dibangun. Berkali – kali sudah saya sampaikan di Musrenbang kecamatan juga tidak ada kabar yang menggembirakan,” papar Tono.

Baca juga:  Dor! Komplotan Maling Pompa Air Lintas Daerah Ditembak di Sragen, Sudah 16 Kali Beraksi 

Tono mewakili petani di daerah kebonromo yang juga anggota DPRD Sragen menyampaikan, jalan yang merupakan akses utama bagi warga di dua desa untukmengangkut hasil pertanian tersebut. Berkali-kali disampaikan Tono dalam musrenbang sejak tahun 2020 sampai dengan penetapan tahun 2023.

“Pada tahun 2020-2021 kami maklumi karena banyak anggaran yang terkena refocusing,” ujar dia.

Selain itu, jalan usaha tani yang memiliki panjang 1,9 kilo meter dan lebar 5 meter. Kini, lebarnya tinggal 1 meter akibat gerusan air sungai. Jalan tersebut juga menjadi tumpuan dari puluhan hektar sawah. (ars)

iklan