31.8 C
Semarang
Rabu, 6 Mei 2026

Kisah Pilu Keluarga Sulatin, Enam Tahun Huni Gudang Selebar Satu Meter




JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Di sudut RT 1 RW 2, Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, sebuah ruang sempit yang dulunya gudang kayu bakar, kini menjadi saksi perjuangan hidup keluarga Sulatin (50) bersama istrinya Sutinah (49) serta anaknya Putri (13) yang kini duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Keluarga kecil tersebut menempati bangunan berukuran lebar satu meter itu selama enam tahun terakhir. Udara pengap dan ruang gerak yang terbatas, telah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka. Tempat yang semula digunakan untuk menyimpan kayu bakar itu disulap sedemikian rupa agar bisa ditiduri.

‘’Dulu masak pakai kayu bakar, tempatnya di sini. Sekarang karena pakai kompor, disuruh bersihkan lalu saya tinggali,’’ tutur Sutinah, saat ditemui Selasa (5/5).

Sebelumnya, keluarga Sulatin sempat mengontrak rumah di daerah selatan dengan biaya satu juta rupiah per tahun. Namun, himpitan ekonomi membuat biaya yang tergolong murah itu pun tak sanggup mereka bayar.

Baca juga:  Buntut Adanya Larangan Bus Peziarah, Ketua Komisi A DPRD Kudus Desak Revisi Kebijakan Pemkab

Kondisi fisik yang kian menurun memperparah keadaan. Sutinah menderita sakit di bagian kaki yang membuatnya kesulitan bergerak dan bekerja normal. Untuk menyambung hidup, ia mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup.

‘’Saya kerja serabutan, kadang dapat Rp 10.000 sehari. Sebulan sekitar Rp300 ribu,” tuturnya.

Nasib serupa pun menimpa sang suami, Sulatin, sudah 12 tahun lamanya ia menderita sakit punggung kronis yang membuatnya tak lagi perkasa mencari nafkah. Alih-alih berobat ke rumah sakit secara medis, Sulatin hanya mengandalkan jamu asam urat setiap hari agar tubuhnya tetap bisa digerakkan.

Meskipun memiliki kartu BPJS pemerintah, mereka mengaku obat medis yang didapat kurang terasa khasiatnya dibandingkan jamu tradisional.

Di tengah kemiskinan yang mencekik, Sutinah tetap memprioritaskan pendidikan anak semata wayangnya. Kini, putrinya sekolah di SMP Negeri di daerah Kecamatan Mejobo. Meski biaya sekolah dan LKS digratiskan melalui dana BOS, Sutinah masih harus memutar otak untuk membelikan seragam sekolah yang tidak murah bagi kantongnya.

Baca juga:  Sukses Tembus Pasar Internasional, Nawal Yasin Borong Kopi Khas Muria Kudus

Harapan untuk hidup lebih layak sebenarnya sempat membuncah. Dengan sisa tenaga dan tabungan yang dikumpulkan susah payah, Sutinah berhasil membeli sepetak tanah. Namun, uangnya habis hanya untuk menebus tanah tersebut.

‘’Duit dikumpulkan buat beli tanah. Sekarang tanahnya sudah ada, tapi belum bisa membangun rumah karena uangnya sudah habis buat bayar tanah itu,” jelasnya.

Kini, di usianya yang hampir menginjak kepala lima, Sutinah hanya punya satu keinginan sederhana yakni memiliki rumah yang layak huni. Nama keluarganya pun kini telah diusulkan agar mendapat bantuan bedah rumah atau program serupa dari pemerintah. (han/rit)




TERKINI

Pertumbuhan Ekonomi Jateng Melesat 5,89%




Rekomendasi

...