JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Rencana glowingisasi eks Gedung Pemda Sragen berbuntut polemik identitas. Di tengah paparan desain futuristik puluhan miliar, satu isu justru mencuat jadi sorotan: ikon mana yang pantas mewakili Sragen.
Public hearing di Aula MPP, Selasa (5/5/2026), yang awalnya membahas empat desain ruang publik serba guna, berbuntut kritikan soal jati diri Bumi Sukowati. Pemkab lewat Disperkimtaru memang fokus ke fasilitas: _co-working space_ berbayar, ruang pamer seni, perpustakaan, hingga area kuliner.
Tapi Komunitas Sejarah Sragen tak terima. Tri Rahayu lempar kritik tajam ke wajah forum. Ia soal dominasi ikon Manusia Purba di Sragen, padahal Pangeran Mangkubumi punya jejak langsung dengan lahirnya kabupaten ini.
“Masak Iya di Taman Mangkubumi Patungnya Manusia Purba. Seharusnya Sragen mengangkat ikon Pangeran Mangkubumi,” tegas Tri. Ia ingatkan, patung Pangeran Mangkubumi pernah digagas di era Bupati Agus Fatchur Rahman. “Sekarang replika patungnya di rumahnya.”
Sindiran itu menohok. Taman Mangkubumi justru diisi patung Manusia Purba. Bagi Tri, ini soal meluruskan sejarah. Sragen tak bisa lepas dari Mangkubumi. Fosil Sangiran memang kelas dunia, tapi akar pemerintahan Sragen ada di Mangkubumi.
Sementara, Kepala Disperkimtaru Aris Wahyudi belum jawab lugas soal ikon. Ia fokus jelaskan konsep ruang publik yang bakal disewa-sewakan. “Diharapkan ruang publik ini selalu didatangi orang dan tidak pernah sepi.” Anggaran 2026 sudah disiapkan Rp2,7 miliar untuk penataan awal, dari total proyeksi puluhan miliar.
Asisten II Setda Tugiyono bilang semua masukan ditampung. “Masukan dari sudut pandang apa pun akan diterima.” yas/rit)













