33.8 C
Semarang
Rabu, 6 Mei 2026

Tiga Hal Ini, Sebabkan 50 Santri di Ponpes Pati jadi Korban Kekerasan Seksual




JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Kasus kekerasan seksual 50 santriwati yang diduga dilakukan AS, pengasuh pensatren Ndholo Kusumo Pati,Jawa Tengah, menyesakkan dada. Meski upaya penahanan hukum dilakukan, kasus masih terus berulang disejumlah ponpes yang ada.

Kenapa bisa terjadi? Imam Nahe’i, Anggota Satuan Anti Kekerasan Seksual (SAKA) PBNU, yang juga mantan komisioner Komnas Perempuan, menjelaskan, pondok pesantren yang menjadi “sarang” kekerasan seksual punya pola yang nyaris sama.

Setidaknya ada tiga pola, yang biasa terjadi di pesantren, sehingga kekerasan seksual bisa terjadi.

Pertama, kerap mewajarkan, menolerir, bahkan membiarkan tindakan-tindakan seperti memegang, memeluk, dan mencium para santri. Padahal, menurutnya, hal itu bisa berujung pada kekerasan seksual.

“Seperti kasus di ponpes di Sumenep, kejadiannya sudah cukup lama, sejak 2017 sampai akhirnya baru-baru ini terbongkar. Itu artinya selama ini ada pemakluman-pemakluman dari sekitar,” ucap Imam Nahe’i kepada BBC News Indonesia, Senin (04/05).

Baca juga:  Pemkab Kudus Siapkan Tim Khusus Pendamping Guru

Kedua, umumnya pengasuh pondok pesantren bermasalah itu mengajarkan hal-hal “berbau dukun atau mistis”.

“Jadi tidak mengajarkan yang sifatnya rasional. Misalnya yang di Jombang, sesungguhnya magic seperti menggunakan transfer pengetahuan melalui thoriqoh dan macam-macam.”

“Kemudian ada juga yang mengatasnamakan wali. Kalau tidak taat kepada wali, maka masuk neraka. Termasuk di Pati, kan ada mistis-mistisnya apalagi mengklaim sebagai wali,” sebutnya.

Ketiga, biasanya pondok pesantren tersebut memakai nama yang terdengar “aneh” dan tak lazim, serta masih baru berdiri.

“Perhatikan namanya, berbeda dengan pesantren yang sudah teruji dan besar. Kayak di Pati nama pondoknya Ndholo Kusumo, itu agak aneh bagi saya. Karena biasanya pesantren klasik itu memakai nama-nama yang mencerminkan dia sebagai sumber keilmuan.”

Baca juga:  Sam’ani Pastikan Kebersihan Festival Dandangan 2026

“Misalnya, Darussalam, salafiyah-salafiyah gitu dan biasanya kalau tidak menggunakan nama itu, popular dengan nama daerahnya semisal Lirboyo, Ploso, Sidogiri,” urainya.

Namun, menurut Imam Nahe’i, para calon santri atau santri yang baru masuk tidak menyadari pola tersebut. Malah, klaimnya, mereka kemungkinan tidak tahu sama sekali apa itu pelecehan dan kekerasan seksual akibat minimnya pengetahuan.

Bahkan, kekerasan verbal masih dianggap sebagai hal biasa alias bukan kekerasan di dunia pesantren.

“Saya kebetulan mengajar di pesantren, ada pesantren cukup besar dan saat saya bertanya kepada pengajar, mereka tidak paham apa itu kekerasan seksual. Kekerasan seksual itu, menurut mereka, kalau sudah ada penetrasi.”

“Kalau belum sampai situ, dianggap bukan kekerasan seksual, semacam dosa saja.” (*/jan)

 




TERKINI




Rekomendasi

...