JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Proses pembongkaran Stadion Wergu Wetan Kudus kini telah rampung. Namun siapa sangka, berakhirnya riwayat sarana olahraga kebanggaan ‘Wong Kudus’ itu, membawa berkah sendiri bagi masyarakat pencari barang bekas. Sisa-sisa material beton yang hancur berantakan, jadi “harta karun” yang menggiurkan bagi mereka.
Pantauan di lokasi sejak pagi buta menunjukkan dinamika tak biasa di area bekas stadion. Belasan pemulung tampak sudah bersiaga dengan “senjata” lengkap mereka. Mulai dari karung goni berukuran besar, palu godem pembongkar beton, hingga gunting baja khusus pemotong besi.
Mereka bergerak lincah di antara gundukan puing, memilah, dan mempreteli material yang masih memiliki nilai jual tinggi di pasar rongsokan, terutama besi struktural bangunan.
Salah satu warga yang ketiban untung adalah Ahmad, pria paruh baya asal Kelurahan Wergu Wetan. Dalam dua hari terakhir, fokus utamanya beralih total ke pusat reruntuhan ini.
Ahmad yang sehari-harinya menyambung hidup dari kerja serabutan dan buruh harian di usaha pemotongan ayam, memilih meliburkan diri dari rutinitas biasanya. Menurutnya, potensi penghasilan dari berburu besi bekas di stadion jauh lebih menjanjikan untuk saat ini.
‘’Saya sudah di sini sejak setelah Subuh. Alhamdulillah, ada saja rezeki yang bisa dibawa pulang untuk kebutuhan dapur keluarga,’’ ujar Ahmad.
Untuk membawa hasil buruannya yang berat, Ahmad mengandalkan sepeda motor tua yang telah dimodifikasi dengan tambahan gerobak kayu di sampingnya. Dengan cekatan, tangan kekarnya mengayunkan palu godem berkali-kali ke bongkahan beton besar. Begitu struktur besi di dalam beton terekspos, ia langsung memotongnya menjadi bagian-bagian kecil agar mudah dikemas ke dalam karung.
Jerih payah itu terbayar tunai. Ahmad mengaku dalam sehari mampu mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp200.000. Jumlah yang sangat besar bagi pekerja sektor informal sepertinya.
‘’Pendapatan harian tentu tergantung seberapa banyak besi yang berhasil dikumpulkan dan dipotong hari itu,’’ tambahnya.
Fenomena berburu rupiah di atas puing ini tidak hanya dilakoni oleh Ahmad seorang. Area bekas tribun dan lapangan kini dipadati oleh puluhan warga lainnya dengan motivasi serupa. Bahkan, sejumlah perempuan paruh baya turut serta ambil bagian, dengan sabar memilah kawat dan besi-besi kecil di antara debu bangunan yang beterbangan.
Supardi, pemulung lain yang biasa beroperasi di wilayah Kudus Kota, mengaku sangat terbantu dengan adanya proyek pembongkaran ini. Keberadaan puing stadion yang terkonsentrasi di satu titik membuatnya tidak perlu lagi berjalan kaki atau mengayuh sepeda berkilo-kilometer demi mengumpulkan barang bekas.
‘’Lumayan sekali, daripada harus keliling kota mencari plastik dan botol bekas yang hasilnya tidak menentu. Kalau ada momen seperti ini, lebih baik fokus di sini karena kandungan besinya banyak dan bobotnya berat,’’ papar Supardi.
Mengenai nilai ekonomis, Supardi menjelaskan bahwa harga besi bekas di tingkat pengepul lokal saat ini bergerak fluktuatif di kisaran Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram. Nominal pastinya sangat bergantung pada kebijakan penadah dan kualitas besi yang disetorkan.
‘’Saya biasanya menjual ke siapa saja (pengepul) yang lokasinya paling dekat dan mau membayar tunai. Patokan harganya sekitar segitu. Bagi kami, berapa pun harganya yang penting cukup untuk membeli beras dan makan sehari-hari,’’ tuturnya. (han/rit)





