JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Jalanan RW 03 Pundung Putih, Gedanganak, Ungaran Timur, berubah menjadi panggung raksasa yang meriah. Dentuman musik tradisional berpadu riuh dengan sorak-sorai penonton yang tumpah ruah di sepanjang sisi jalan, rela berpanas-panasan demi menyaksikan puncak kemeriahan Merti Dusun yang digelar dua tahun sekali.
Tahun ini, tradisi yang mengusung tema “Nguri-Nguri Budaya” tersebut diikuti oleh sebelas RT dari penjuru dusun, digelar pada Minggu (30/8/2026). Setiap kontingen tampil habis-habisan memamerkan keragaman dan kreativitas seni terbaik mereka. Namun, di antara deretan peserta yang memukau, barisan dari RT 01 berhasil mencuri perhatian khusus berkat totalitas penampilan mereka yang mengangkat legenda lokal, Baru Klinting.
Bukan sekadar jalan bersama, hampir seluruh warga RT 01—mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa—turut tumpah ke jalan dalam barisan kirab. Desi Redha (45), Ketua PKK RT 01, mengungkapkan bahwa pemilihan kisah Baru Klinting memiliki makna filosofis yang mendalam bagi warganya.

“Selain untuk menjaga kelestarian budaya, kami berharap pesan moral dari kisah Baru Klinting bisa menjadi pengingat bahwa kesombongan dan ketamakan pada akhirnya hanya akan menghancurkan hidup kita sendiri,” ujar Desi kepada Jateng Pos, Kamis (3/9/2026).
Di balik megahnya penampilan tersebut, tersimpan kerja keras luar biasa dari para warganya. Dina Hermawati, warga sekaligus koreografer tarian legenda Baru Klinting, mengaku mendedikasikan waktu penuh untuk meramu konsep pementasan ini. Ia membutuhkan waktu tiga minggu untuk mematangkan gambaran tarian, merangkainya menjadi gerakan utuh hanya dalam tiga hari, dan melatih para penari selama sepuluh hari saja hingga siap tampil memukau.
Daya tarik RT 01 semakin lengkap dengan kehadiran riasan “edan-edanan” yang sukses membuat warga pangling, serta kemunculan replika ular naga raksasa sepanjang kurang lebih enam meter. Naga gagah tersebut merupakan murni hasil karya tangan kreatif warga setempat yang dimandegani oleh Bagus Eko Kumara.
Suksesnya gelaran kirab budaya ini membuktikan bagaimana tradisi mampu merekatkan kebersamaan warga. Meski rangkaian acara telah dimulai, kemeriahan Merti Dusun Pundung Putih belum usai.
Puncak perhelatan akbar ini dijadwalkan ditutup pada Sabtu, 5 September 2026 mendatang, dengan suguhan pagelaran wayang kulit bersama dalang Ki Gondo Suharno yang siap menghentak kembali malam warga Pundung Putih. (muz)Â




