RSGM Ambarawa Siapkan Petugas Khusus, Pasien Tuli Bisa Berobat Sendiri


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Hambatan komunikasi tak seharusnya menjadi penghalang bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Rumah Sakit Umum Daerah Gunawan Mangunkusumo (RSGM) Ambarawa, Kabupaten Semarang, menyiapkan personel khusus yang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat untuk melayani pasien Tuli.

Langkah ini diharapkan membuat pasien Tuli lebih leluasa menyampaikan keluhan kesehatan, memahami informasi medis, hingga menjalani pemeriksaan tanpa harus selalu bergantung pada anggota keluarga sebagai penerjemah.

Direktur RSGM Ambarawa, dr Hasti Wulandari MKM, mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan instruktur dari Sekolah Luar Biasa (SLB) di Ungaran untuk melatih personel yang akan memberikan pelayanan tersebut.

“Kami sudah menjalin kerja sama dengan instruktur dari Sekolah Luar Biasa di Ungaran untuk melatih personel yang akan bertugas melayani pasien tersebut,” kata Hasti seusai Forum Konsultasi Publik (FKP) bersama para pemangku kepentingan di aula RSGM Ambarawa, kemarin.

Menurutnya, peningkatan mutu pelayanan bagi penyandang disabilitas menjadi salah satu perhatian rumah sakit. Sejauh ini, penyediaan sarana pendukung bagi pasien disabilitas telah mencapai lebih dari 60 persen. Pengembangan berikutnya diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan, termasuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan bahasa isyarat.

Baca juga:  Hilangnya Makam Leluhur di Area Paragon Mall, Ahli Waris Datangi PN Semarang

Petugas yang telah mendapatkan pelatihan nantinya ditempatkan di bagian informasi dan pelayanan poliklinik rawat jalan. Dengan demikian, pasien Tuli yang sebelumnya mengandalkan komunikasi melalui tulisan dapat memperoleh alternatif komunikasi yang lebih mudah dan sesuai dengan kebutuhannya.

Upaya tersebut bukan sekadar menyediakan fasilitas fisik, melainkan juga membangun pelayanan yang memberi ruang bagi pasien untuk menyampaikan kebutuhan dan mengambil keputusan terkait kesehatannya secara lebih mandiri.

Ketua Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Semarang, Ch Ratna Windaryanti, menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai kemudahan komunikasi merupakan bagian penting dari pemenuhan hak penyandang disabilitas dalam memperoleh layanan kesehatan.

Selama ini, pasien Tuli kerap membutuhkan bantuan orang lain untuk menjelaskan keluhan maupun memahami informasi dari tenaga medis. Kondisi tersebut membuat akses terhadap pelayanan kesehatan belum sepenuhnya setara.

“Ini hal positif terkait aksesibilitas dan harus ada. Sebab, tidak ada keputusan tentang kami tanpa komunikasi dengan kami,” tegas Ratna.

Pernyataan itu menekankan bahwa penyandang disabilitas perlu dilibatkan secara langsung dalam proses pelayanan, bukan sekadar menjadi penerima layanan. Komunikasi yang mudah diakses memungkinkan pasien menyampaikan keluhan dengan lebih jelas sekaligus memahami penjelasan tenaga kesehatan mengenai kondisi mereka.

Baca juga:  Bupati Demak Serahkan Bantuan Korban Angin Puting Beliung Desa Kunir

Selain menyiapkan layanan bagi pasien Tuli, RSGM Ambarawa juga mengembangkan inovasi komunikasi bagi keluarga pasien yang dirawat di ruang intensive care unit (ICU). Rumah sakit menyediakan aplikasi interaktif bernama Simpati, yang memungkinkan keluarga berkomunikasi secara dua arah dengan perawat mengenai kondisi pasien.

“Jadi keluarga pasien dapat berkomunikasi langsung dua arah dengan perawat,” jelas Hasti.

Inovasi tersebut diharapkan membantu keluarga memperoleh informasi mengenai pasien yang menjalani perawatan intensif, sekaligus mempermudah komunikasi dengan petugas medis.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Semarang, Pujo Pramujito, yang hadir sebagai narasumber dalam FKP, menyatakan dukungannya terhadap upaya memperluas akses pelayanan bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, kemudahan akses harus menjadi perhatian, baik dalam pelayanan kesehatan maupun pendidikan.

Melalui forum konsultasi publik tersebut, berbagai masukan dari pemangku kepentingan diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi rumah sakit untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan.

Dengan hadirnya petugas yang memahami bahasa isyarat dan dukungan teknologi komunikasi, RSGM Ambarawa berupaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang tidak hanya mengutamakan fasilitas, tetapi juga memastikan setiap pasien memiliki kesempatan yang sama untuk didengar, dipahami, dan mendapatkan layanan sesuai kebutuhannya. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...