28 C
Semarang
Selasa, 21 April 2026

Membaca Fatamorgana Emansipasi Digital




Oleh. Tukijo, S.Pd., M.Pd.(Mahasiswa S3, Ilmu Pendidikan Bahasa.UNNES)

JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Perempuan  dulu dibingkai dalam kerangka keluarga, adat norma, dan nilai. Namun saat ini Perempuan terperangkap dalam ideologi digital yang menggerus nilai feminisme. Ironisnya makin kaburnya nilai itu, disulut dengan maraknya kekerasan online berbasis gender yang makin meningkat. Seakan hadirnya AI dan platform digital pun turut menenggelamkan sisi keperempuannnya dalam relasi-relasi yang abstrak. Akhirnya muncul dogma baru yang diyakini, diimitasi, diadopsi sembari membungkus perilaku dalam etalase digital. Tak jarang dalam diskursus tertentu kemudian melahirkan depresi, ketakutan, kecemasan, rendah diri, dan sebagainya.

Ideologi yang lahir dari platform digital dengan beragam konten tanpa filtrasi yang kuat, diyakini dapat membuat keropos nilai dan emansipasi. Bicara emansipasi terlepas dari semangat Kartini muda yang berjuang secara totalitas melibatkan segala aspek yang dimilikinya; intelektual, keluarga, status sosial, harta, martabat dan pertaruhan keyakinan, emansipasi menjadi ideologi yang bisa tumbuh. Bukan hanya pada segmentasi sosial, tapi juga lintas lintas sektoral.

Peran perempuan yang terus terkikis, melahirkan sikap pesimistis, skeptis, dan apatis menjadi biang kerok degradasi nilai pada generasi berikutnya. Di era yang bukan sekadar modern tapi justru mengaburkan makna peran, relasi perempuan makin dilemahkan dengan sikapnya pada perubahan yang ada.


Baca juga:  Mbak Ita: Mari Kita Penggunaan Transportasi Ramah Lingkungan

Beragam pemikiran tentang perempuan banyak dieksplorasi. Penelitian tentang peran perempuan maupun relasi kekuasaan yang membungkamnya menasbihkan kedudukan dan martabatnya secara etika dan sosial. Dulu perempuan dikontrol oleh nilai, keluarga, dan pranata laku, saat ini justru muncul dalam rupa teknologi.

Meski demikian, rupanya ruang  lingkup  wanita  dalam  mengembangkan  potensinya  pun  menjadi  sempit.  Seperti penelitian terkait wanita atau perempuan dalam berpolitik, bagaimana budaya patriarki yang masih mendominasi, sehingga yang seharusnya wanita bisa mendapatkan tempat untuk berpolitik masih terhambat.  Hal  ini  berakibat  jumlah  wanita  yang  terjun  dalam  perpolitikan  masih  sedikit dibandingkan  dengan laki-laki  karena  dianggap  masih  belum  mumpuni.  Walaupun  minat  wanita dalam berpolitik sudah meningkat, namun prosentasenya masih sedikit meskipun sudah mendapat jaminan  dari ketentuan undang-undang (Very Wahyudi, 2018).

Saat ini, di tiap peringatan hari Kartini euphoria acap kali mematikan obor emansipasi sendiri. Nilai emansipasi menjadi bias. Ada struktur kuat melalui platform digital dan era keterbukaan infromasi yang kian akut. Secara sadar maupun tidak, menghadirkan beragam persoalan pada diri maupun orang di sekitarnya.

Kartini melahirkan nilai, dan semangat kejuangan. Perjuangannya bukan untuk meminta tanda jasa. Tapi polarisasi semangatnya yang kian memprihatinkan. Dalam berbagai media banyak pemberitaan yang menempatkan perempuan sebagai objek. Sebagai korban yang terus dihegemoni oleh relasi kuasa maskunilitas. Dalam konteks seperti ini tentu ada unsur intrinsik yang perlu diurai. Eratnya relasi kuasa maskulinitas yang menempatkan perempuan pada posisi tidak terhormat, akan makin meruntuhkan jatidiri dan nilai emansipasi yang selama ini digaungkan.

Baca juga:  Jawa Tengah jadi Lokasi Perdana Peluncuran Campus Immigration Point

Akankah emansipasi hanya jadi pajangan di etalasi retorika dan praktik sosial belaka?Atau memang isu-isu perempuan di era digital menjadi objek isu yang strategi yang ampuh?Atau justru menempatkan Perempuan pada posisi yang tak terstandar dalam dogma nilai, karakter, pekerti, dan kesantunan. Dalam banyak pemikiran, perkembangan teknologi digital dan merambahnya media sosial turut mempengaruhi konstruksi attitude, pemikiran, dan perubahan praktik sosial yang tanpa disadari terus berproses. Peringatan Kartini cukup jadi bukti dan batu pijakan untuk lompatan perempuan-perempuan hebat di keluarga. Bukan yang melompatkan dirinya pada jejaring rivalitas dan viralitas media. Untuk itu, emansipasi hadir, untuk mereka yang mau mengokohkan peran domestiknya pada pondasi nilai bagi anak dan keluarga tanpa menafikan aspek dinamika yang ada. (*)




TERKINI




Rekomendasi

...