JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Masuk era digital ini penguatan ekonomi dengan branding menjadi salah satu upaya mendongkrak penetrasi pasar.
Pakar Branding Prof. Agus W. Soehadi, Ph.D., membedah strategi komunikasi modern bertajuk “Political Cinematic Brand Aura”. Ia menyoroti tantangan besar dalam merebut perhatian Generasi Z yang kini mendominasi audiens digital.
Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri peluncuran Literaworks dalam talkshow SMG Economic Insight di Solo, Jumat (30/1).
Menurut Marketing Professor dari Universitas Prasetiya Mulya ini, Gen Z sebagai digital natives memiliki karakteristik unik: kepercayaan yang rendah terhadap institusi namun memiliki sensitivitas emosional yang tinggi. Kondisi ini mengubah total cara berkomunikasi, termasuk dalam dunia politik.
“Politik tidak lagi bisa dijelaskan melalui pesan-pesan yang kaku, melainkan harus dirasakan melalui pengalaman. Saat ini, komunikasi telah menjadi micro-cinema di mana video pendek mendominasi perhatian publik,” jelas Prof. Agus.
Ia menambahkan, meski Gen Z menyukai konten singkat (short video), pemberi pesan tetap harus memiliki strategi jangka panjang. “Kuncinya adalah benang merah. Meski pesannya singkat-singkat, saat dikumpulkan harus terlihat visi besarnya,” tambahnya.
Senada dengan semangat adaptasi tersebut, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menekankan bahwa kemampuan beradaptasi di tengah derasnya arus digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar bagi sektor pemerintahan maupun bisnis.
“Ini wujud nyata kemampuan beradaptasi. SMG mampu menjadi mitra strategis Pemerintah Kota Solo, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di kota ini,” ujar Respati.
Menjawab tantangan komunikasi yang kaku tersebut, Literaworks hadir dengan filosofi “Context First, Impact Follows”. CEO SMG, Arif Budisusilo, menjelaskan bahwa Literaworks bukan sekadar agensi produksi konten, melainkan mitra yang membangun pemahaman publik melalui empat pilar: Context, Content, Channel, dan Impact.
”Kami memastikan narasi berpijak pada realitas melalui riset dan pemetaan isu. Tujuannya adalah menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan,” tutur Arif. (dea)













