JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO — Limbah kertas yang kerap menjadi persoalan tata kelola lingkungan kini menemukan wujud barunya sebagai mahakarya seni bernilai jual tinggi.
Bertempat di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (Yakabi) menggelar Workshop & Pelatihan Intensif Produksi Topeng Wayang Limbah Kertas, Sabtu (30/5).
Kegiatan edukatif ini merangkul 100 pemuda disabilitas sebagai agen penggerak ekonomi hijau. Program ini mendapat dukungan pendanaan resmi dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia di bawah payung Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4.
Ketua Yakabi, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, memaparkan bahwa agenda kali ini berfokus penuh pada tahapan produksi massal dari material kertas bekas yang telah dipilah.
“Fase produksi ini adalah jantung dari skema ekonomi sirkular yang kami bangun. Hari ini, kertas-kertas bekas itu tidak sekadar dihancurkan, melainkan diberikan nilai tambah berupa sentuhan pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi,” terang Fadhel.
Proses alih teknologi dan kreativitas ini dipandu langsung oleh maestro seni rupa topeng Sukoharjo, Drs. Rus Hardjanto atau yang akrab disapa Mbah Jantit. Beliau membagikan teknik meracik bubur kertas (pulp) serta pencetakan agar menghasilkan topeng yang presisi dan tahan lama.
Mbah Jantit mengaku kagum dengan hasil karya para peserta yang dinilainya sangat detail dan presisi. Ia optimis produk olahan limbah ini kelak mampu bersaing di pasar kesenian lokal hingga nasional.
Apresiasi senada disampaikan Ketua Sanggar Inklusi Permata Hati, Listri Sedyaningsih. Menurutnya, pendekatan Yakabi sangat holistik karena menyatukan tiga aspek penting: Pelestarian alam melalui pemanfaatan limbah. Upaya merawat kebudayaan Jawa. Dan Penumbuhan kemandirian bagi penyandang disabilitas.
Di sisi lain, proses pembuatan topeng ini ternyata memberikan efek terapeutik yang signifikan bagi para pemuda disabilitas. Pendamping Inklusi, Suyanti, mencatat adanya stimulasi motorik dan psikologis yang sangat positif selama pelatihan.
“Aktivitas meremas kertas basah, mencampur adonan lem, hingga menekan pulp ke dalam cetakan adalah bentuk terapi sensori dan motorik halus yang ideal. Selain itu, ada pancaran kebanggaan yang luar biasa pada diri mereka saat melihat hasilnya,” urai Suyanti.
Pasca-tahap pencetakan, seluruh purwarupa topeng akan memasuki fase pengeringan dan pewarnaan artistik. Sebagai langkah penyempurnaan, Yakabi juga telah menjadwalkan pembekalan literasi digital untuk kesiapan pemasaran produk agar karya ekologis ini siap diserap pasar secara luas. (dea/rit)



