JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Memasuki Ramadhan, ritme lalu lintas di Jawa Tengah mengalami perubahan signifikan. Perubahan pola makan dan jam tidur saat berpuasa menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara sepeda motor.
Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, Oke Desiyanto menjelaskan, kondisi tubuh saat puasa dapat dianalogikan seperti fitur “low power mode” pada ponsel. Saat kadar gula darah menurun, kinerja otak dalam memproses informasi ikut melambat, sehingga memengaruhi waktu reaksi saat berkendara.
Menurutnya, dalam kondisi normal waktu reaksi pengendara bisa sekitar 0,5 detik. Namun saat puasa, respons itu bisa melambat hingga 1 detik atau lebih, yang berisiko fatal ketika terjadi pengereman mendadak di jalan.
Ia menyebut, ada dua waktu paling kritis yang perlu diwaspadai pengendara di Jawa Tengah. Pertama adalah sore hari atau waktu ngabuburit ketika kondisi fisik berada di titik terendah, sementara volume kendaraan meningkat.
Fenomena terburu-buru demi mengejar waktu berbuka kerap membuat pengendara mengabaikan rambu dan marka jalan. Ditambah aktivitas penjual takjil di tepi jalan yang memicu kepadatan, risiko kecelakaan pun meningkat.
Waktu rawan kedua adalah pagi hari pasca sahur akibat perubahan jam tidur. Rasa kantuk dapat memicu micro-sleep atau tertidur sekejap tanpa disadari saat kendaraan melaju.
Ia mencontohkan, micro-sleep selama tiga detik pada kecepatan 50 km/jam membuat motor melaju tanpa kendali sejauh lebih dari 40 meter. Jarak tersebut cukup membahayakan jika terjadi di jalur lurus dan padat kendaraan.
Oke mengingatkan, pengendara memahami kapasitas diri selama berpuasa. Jika mata terasa berat atau konsentrasi menurun, sebaiknya menepi dan beristirahat 10–15 menit di tempat aman seperti masjid atau rest area.
Selain itu, pengendara diminta menambah jarak aman dengan kendaraan di depan. Jika biasanya tiga meter, sebaiknya diperlebar menjadi sekitar lima meter untuk mengantisipasi perlambatan reaksi.
Ia juga mengimbau, agar menghindari manuver agresif yang dapat menguras energi dan memancing emosi. Pengendara disarankan mengonsumsi karbohidrat kompleks saat sahur, memperbanyak air putih, serta tidak menggunakan jaket terlalu tebal saat cuaca terik guna mencegah dehidrasi.
“Jangan korbankan keselamatan demi mengejar waktu berbuka yang hanya selisih beberapa menit. Berkendaralah dengan sabar, karena kesabaran adalah inti dari puasa itu sendiri. Teko panggonan kanthi slamet, ibadah lancar, ati ayem,” katanya.(aln)






