JATENGPOS.CO.ID, PATI – Komisi D DPRD Kabupaten Pati menyoroti dugaan praktik monopoli penjualan seragam sekolah di salah satu SMP Negeri di Kota Pati. Sekolah disebut menunjuk toko tertentu beban orang tua mencapai Rp2 juta per siswa.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi D DPRD Pati Teguh Bandang Waluyo saat ditemui di Gedung DPRD Pati, Rabu (8/7).
Bandang mengaku menerima aduan masyarakat melalui media sosial terkait praktik jual-beli seragam yang dikondisikan pihak sekolah.
“Hari ini mendapat informasi adanya seragam sekolah dikondisikan oleh pihak sekolah. Dia tidak menyediakan, tapi sekolah menunjuk toko atau salah satu pihak ketiga untuk beli di sana,” ungkapnya.
Menurut laporan yang masuk, orang tua diarahkan membeli seragam dan atribut ke toko yang direkomendasikan sekolah. Besaran biayanya disebut mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per siswa.
“Kami dengar 1,5 juta atau 2 juta. Itu memberatkan masyarakat di tengah ekonomi yang tidak baik-baik saja,” ujarnya.
Politisi PDIP itu menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti laporan tersebut. Komisi D berencana memanggil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan/Disdikbud Kabupaten Pati serta kepala sekolah terkait.
“Tapi kami pastikan masyarakat yang lapor ke kami akan kami tindaklanjuti, aduan masyarakat via sosial media. Kami cek kebenarannya, kalau benar akan kami panggil kepala dinas dan kepala sekolahnya,” tegas Bandang.
Ia berharap sekolah hanya memberikan format atau standar seragam, bukan memonopoli penjualannya.
“Kita harap sekolahan hanya kasih gambaran standar seragam ini-itu biar orang tua siswa bikin sendiri,” katanya.
Bandang juga mengingatkan kesepakatan bersama Disdikbud bahwa SD dan SMP negeri dilarang melakukan pungutan dalam bentuk apa pun.
“Komisi D DPRD Kabupaten Pati mengimbau SD dan SMP negeri tidak ada pungutan apapun. Kita sudah sepakat tidak ada tarikan apapun, baik atas nama komite dan lain-lain,” pesannya.
Sementara itu, Disdikbud Kabupaten Pati mengaku belum mengetahui adanya laporan tersebut.
“Saya kurang paham,” ucap Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kabupaten Pati, Fauzin Futiarso, saat dihubungi melalui pesan singkat. Ia menyebut sedang ada kegiatan di Jakarta sehingga belum bisa ditemui.(Ida/rit)





