JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Karaton Surakarta Hadiningrat kembali menggelar upacara adat Wilujengan Kholdalem ke-393 Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo pada Sabtu Legi (18/7). Prosesi yang bertepatan dengan 2 Sapar Be Tahun Jawa 1960 ini berlangsung khidmat sejak pukul 10.00 WIB di Bangsal Sewayana Sitihinggil Karaton Surakarta.
Agenda tahunan ini digelar sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa Sultan Agung, sekaligus momen memanjatkan doa kepada Allah SWT demi keselamatan bangsa, masyarakat, dan kelestarian budaya Jawa.
Ritual sakral dimulai dengan arak-arakan ubarampe wilujengan dari Sasana Handrawina menuju Bangsal Sewayana Sitihinggil. Berbagai sesaji simbolis seperti damayu, suruh ayu, nasi gurih lengkap, hingga ingkung disajikan sebagai lambang penghormatan kepada leluhur.
Setibanya di Sitihinggil, prosesi dilanjutkan dengan ujub, pembacaan tahlil, zikir, Syahadat Qures, serta Salawat Sultan Agungan yang menjadi tata cara baku di lingkungan karaton.
Sebanyak 500 peserta yang terdiri dari abdi dalem, sentana dalem, dan masyarakat umum tampak memadati lokasi. Mereka mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khusyuk, kompak mengenakan busana Jawi jangkep padintenan berwarna putih sesuai dengan pakem adat yang ditentukan.
“Tahun ini peserta sekitar 500 orang. Memang tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya karena selama Bulan Suro terdapat banyak kegiatan adat dan ziarah yang harus dilaksanakan. Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar,” ujar Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd.
Perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng tersebut menambahkan bahwa peringatan haul ini menjadi momentum penting untuk memohon keberkahan agar Karaton Surakarta bisa terus konsisten menjalankan perannya sebagai episentrum pelestarian kebudayaan Jawa.
“Kami berharap Karaton Surakarta senantiasa mendapatkan penerangan yang lebih baik sehingga dapat terus menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai sumber kebudayaan Jawa. Hingga kini, tata cara adat dan pakem budaya Karaton masih menjadi pedoman masyarakat Jawa dalam berbagai upacara adat. Semoga seluruh warisan budaya tersebut tetap lestari dan dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (dea/rit)





