JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mendorong perusahaan swasta di Kota Kretek, untuk memperketat pengawasan medis bagi buruh perempuan. Terutama yang sedang hamil. Hal ini sebagai upaya menekan angka kematian ibu (AKI) yang kini telah mencapai lima kasus di Kudus.
Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, menyatakan bahwa salah satu langkah mendesak yang perlu diintegrasikan ke dalam lingkungan industri adalah penyediaan fasilitas olahraga khusus, seperti senam ibu hamil, serta program deteksi dini pencegahan komplikasi kehamilan.
‘’Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kita bersama. Bagaimana ibu-ibu yang bekerja di pabrik bisa mendapatkan akses fasilitas senam hamil dan program pencegahan komplikasi di tempat kerja mereka. Hal ini yang sedang kami matangkan saat ini,’’ ujar dr. Hakam, baru-baru ini.
Langkah preventif di area kerja dinilai krusial mengingat karakteristik wilayah Kabupaten Kudus didominasi oleh industri padat karya. Saat ini, sektor manufaktur seperti industri hasil tembakau (IHT) atau pabrik rokok menyerap tenaga kerja perempuan dalam skala masif.
‘’Di Kudus ini ada lebih dari 100 ribu buruh perempuan yang bekerja di pabrik rokok dan sektor lainnya. Ketika mereka hamil, pengawasan kesehatannya tidak boleh putus dan harus dipantau secara ketat, baik oleh keluarga maupun manajemen tempat kerja,’’ tambahnya.
Selain faktor kelelahan kerja, DKK Kudus juga mengidentifikasi risiko medis pada tren kehamilan anak ketiga atau keempat di kalangan pekerja. Berdasarkan data evaluasi internal, akumulasi kehamilan berulang pada usia produktif yang aktif bekerja meningkatkan kerentanan kesehatan secara signifikan.
Hingga Agustus 2026, DKK Kudus mencatat telah terjadi lima kasus kematian ibu. Berdasarkan hasil autopsi verbal dan audit medik, fatalitas tersebut dipicu oleh komplikasi penyakit penyerta dan terlambatnya penanganan medis.
‘’Lima kasus kematian ibu yang terjadi di antaranya disebabkan oleh gangguan hormon tiroid dan pendarahan hebat. Sementara kasus lainnya dipicu oleh hipertensi kronis saat kehamilan yang memicu komplikasi fatal berupa stroke,’’ papar dr. Hakam terperinci.
Pihak dinas kesehatan menyayangkan masih adanya kasus pendarahan yang tidak terantisipasi. dr. Hakam menegaskan bahwa risiko pendarahan postpartum maupun masa kehamilan sebenarnya dapat dicegah total jika faktor pemicunya dideteksi sejak trimester pertama melalui layanan kedokteran yang rutin.
‘’Kasus pendarahan fatal ini rata-rata terjadi karena kondisi kehamilannya kurang kontrol. Skrining awal tidak berjalan maksimal, sehingga intervensi medis terlambat dilakukan,’’ sesalnya. (han/rit)





