JATENGPOS.CO.ID, PATI – Dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Pati mengungkap sisi kelam kehidupan di asrama sekolah. D (16), siswa kelas X, mengaku menjadi korban kekerasan belasan teman sendiri setelah dituduh mencuri sabun cuci muka. Akibatnya, korban mengalami luka di kepala dan dahi serta kerusakan sejumlah gigi, bahkan satu gigi depannya dilaporkan lepas dan satu lainnya patah.
Peristiwa tersebut terjadi di kamar asrama pada Selasa (29/9/2026) malam. Kasus ini mencuat ke publik setelah viral di media sosial dan dilaporkan ke kepolisian pada 5 Oktober 2026.
Saat ditemui di Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati, Jumat (9/10), D menceritakan kejadian bermula setelah dirinya selesai makan malam dan kembali ke kamar asrama. Seorang temannya kemudian menghampiri dan menanyakan sabun cuci muka yang hilang.
D mengaku tidak mengambil barang tersebut. Namun, alih-alih mendapat kesempatan menjelaskan, dia justru dipukul dari arah belakang.
“Tiba-tiba ditanya, ‘Kamu ngambil sabunku?’ Saya bilang enggak, tapi tiba-tiba dari belakang ada yang memukul,” ungkapnya.
Menurut pengakuan D, penganiayaan berlangsung dua kali saat lampu kamar dalam keadaan mati. Dia mengaku dipojokkan dan dipukuli di bagian kepala oleh lebih dari 10 orang selama sekitar 15 hingga 20 menit.
“Pengeroyokan terjadi dua kali di kamar. Yang memukul banyak, kira-kira ada lebih dari 10 orang,” tuturnya.
D mengaku masih merasakan nyeri pada gigi serta pusing di bagian kepala dan dahi. Pengalaman tersebut juga meninggalkan trauma yang membuatnya takut ketika mengingat kejadian itu.
“Kepala dipukul semua. Sekarang gigi masih nyeri, kepala dan dahi pusing, masih trauma kalau mengingatnya,” ujarnya.
Dampak dugaan pengeroyokan itu tidak hanya berupa luka lebam. Kondisi gigi korban juga mengalami kerusakan serius. Ibunda D, Jeane Puspita Dewi, 34, menyebut satu gigi depan anaknya lepas, satu lainnya patah, sedangkan beberapa gigi lain mengalami kegoyangan hingga harus mendapatkan penanganan dokter.
“Gigi depan ada yang lepas satu, patah satu, dan selebihnya dikawat karena goyang,” kata Dewi.
Dewi mengaku baru mengetahui anaknya menjadi korban pengeroyokan pada Kamis (1/10/2026), dua hari setelah kejadian. Saat itu, keluarga diminta datang ke RSUD RAA Soewondo Pati.
Setibanya di rumah sakit, D sudah berada di poli gigi. Menurut Dewi, wali asuh baru menyampaikan bahwa anaknya dikeroyok 14 siswa setelah dituduh mencuri sabun cuci muka.
“Saya tahu anak saya jadi korban pengeroyokan saat disuruh datang ke RSUD Soewondo. Sampai di sana anak saya sudah di poli gigi. Wali asuh baru memberitahu kalau anak saya dikeroyok 14 anak karena tuduhan mencuri sabun,” ungkapnya.
Kondisi D disebut memburuk setelah kembali ke rumah. Korban mengalami sesak napas dan perdarahan pada gusi hingga akhirnya dibawa ke KSH Pati pada Rabu (7/10).
Dewi juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi psikologis anaknya. D disebut takut bertemu banyak orang dan tidak ingin kembali bersekolah setelah kejadian tersebut.
“Dia juga trauma berat, takut kalau ketemu orang banyak dan tidak mau sekolah lagi. Gigi anak saya cacat permanen,” ujarnya.
Keluarga turut menyoroti dugaan upaya menutupi kejadian tersebut. Mereka mempersoalkan adanya keterangan bahwa korban sempat diminta mengaku terjatuh dari tangga saat menjalani pemeriksaan medis. Dugaan tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Kuasa hukum korban menyebut 14 siswa telah dilaporkan sebagai terduga pelaku. Pihak keluarga juga menyoroti dugaan pembiaran oleh pengawas atau pihak sekolah dalam insiden yang terjadi di lingkungan asrama tersebut.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SRT 1 Kabupaten Pati, Fachrudin Dwi Saputro, membenarkan adanya insiden kekerasan yang melibatkan sejumlah siswa. Pihak sekolah menyatakan telah menindaklanjuti kejadian tersebut, termasuk membawa korban menjalani pemeriksaan medis.
“Untuk berita yang viral kemarin tentang kekerasan yang dilakukan bersama-sama dari siswa SRT 1 Kabupaten Pati ini, kami sudah menindaklanjuti dan memeriksakan korban ke IGD,” kata Fachrudin saat memberikan keterangan di lingkungan sekolah, Jumat (9/10).
Menurut Fachrudin, pihak sekolah sempat menawarkan pemeriksaan medis pada malam kejadian. Namun, korban memilih beristirahat karena merasa kondisi tubuhnya kurang baik. Pemeriksaan kemudian dilakukan pada pagi hari.
Berdasarkan informasi hasil pemeriksaan yang diterima sekolah, kondisi dada dan rahang korban dinyatakan tidak bermasalah berdasarkan hasil rontgen. Meski demikian, korban memerlukan penanganan lanjutan oleh dokter gigi, termasuk pencabutan satu gigi.
“Dari hasil rontgen bagian dada itu tidak apa-apa, kemudian rahang juga tidak apa-apa. Hanya ada satu penanganan yang dirujuk ke dokter gigi, itu ada satu gigi yang harus dicabut,” jelasnya.
Fachrudin mengaku pihak sekolah masih mendalami penyebab cedera dan rangkaian kejadian. Sekolah juga telah meminta keterangan dari sejumlah siswa yang diduga terlibat, tetapi belum menyimpulkan pemicu insiden tersebut.
Sebagai tindak lanjut, sekolah memberikan pendampingan dan pembinaan kepada 14 siswa yang diduga terlibat, baik melalui internal sekolah maupun dengan melibatkan tim psikolog dari Sentra Margo Laras.
Pihak sekolah juga mengaku telah menjatuhkan sanksi internal berupa penertiban, termasuk hafalan dan pemotongan rambut. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari pembinaan terhadap siswa.
Meski demikian, Fachrudin menegaskan bahwa sekolah tidak membenarkan tindakan kekerasan dengan alasan apa pun.
“Apapun alasan latar belakangnya, kami tidak membenarkan adanya tindakan kekerasan tersebut,” tegasnya.
Sekolah berencana mengevaluasi pola pembinaan dan pengawasan siswa, termasuk peran wali asuh, wali asrama, dan guru, untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Fachrudin menambahkan, korban dan siswa yang diduga terlibat sama-sama duduk di kelas X SMA. Pihak sekolah menyatakan tetap memperhatikan masa depan seluruh siswa sembari menangani kasus tersebut.
“Karena memang korban dan pelaku semua siswa SR, kami tetap memperhatikan masa depan mereka,” pungkasnya.
Hingga Jumat (9/10), motif dugaan pengeroyokan tersebut masih didalami. Kasus ini menjadi perhatian serius, terutama terkait keamanan siswa di lingkungan asrama, pengawasan pihak sekolah, serta penanganan terhadap korban maupun siswa yang diduga terlibat.(Ida/rit)







