Kolaborasi dan Edukasi Kunci Penting Konservasi Orangutan


JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Upaya konservasi menjadi langkah krusial dalam menjaga kelestarian satwa di dunia. Tidak hanya konservasi in situ atau upaya pelestarian flora, fauna, dan ekosistem di habitat aslinya, keberadaan konservasi ex situ di luar habitat alami juga memegang peranan yang sangat penting.

Hal tersebut menjadi topik utama dalam forum diskusi Safari Talk bertajuk “Orangutan dan Masa Depan Konservasi” di Radya Litera Multifunction, Solo, Kamis (22/10). Forum ini menjadi ruang belajar bersama mengenai pentingnya edukasi dan kolaborasi dalam pelestarian satwa.

Direktur Utama PT Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, mengapresiasi tinggi masyarakat Kota Solo yang dinilainya memiliki kesadaran dan kedewasaan terhadap keberadaan satwa, khususnya orangutan.

“Belajar dari insiden beberapa bulan lalu saat salah satu orangutan Solo Safari bernama Didi keluar dari area kebun wisata dan mendatangi warung makan di sekitar lokasi. Menurutnya, warga menyikapi peristiwa itu dengan kehangatan dan tidak menganggap satwa sebagai ancaman,” ungkap Aswin.

Baca juga:  DPKPLH Kudus Kejar Target Retribusi Sampah Rp2,3 Miliar

Aswin menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi tim kurator dan pengelola untuk terus melakukan perbaikan fasilitas secara dinamis. Mengingat orangutan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi sebanding dengan anak berusia enam tahun, pengawasan dan pengelolaan fasilitas harus terus disesuaikan dengan perilaku serta kebutuhan satwa.

“Peran konservasi ex situ seperti di Solo Safari dan Taman Safari Indonesia harus beriringan serta saling melengkapi dengan konservasi in situ.” Tandas Aswin.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menyambut baik inisiatif forum diskusi ini. Ia menyampaikan bahwa keberadaan Solo Safari turut mendukung pilar pariwisata berbasis pengalaman dan pengetahuan di Kota Solo, sejalan dengan konsep Solo the Center of Knowledge.

“Saat ini Pemkot Surakarta melalui Dinas Pendidikan juga telah menjalin kerja sama dengan Solo Safari untuk memberikan ruang belajar langsung bagi para siswa sekolah.” Imbuh Astrid.

Baca juga:  Ketua DPRD Kudus Siap Jalankan Tupoksi

Astrid turut mengajak generasi muda untuk mengambil peran nyata melalui langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membagikan informasi akurat terkait pelestarian satwa liar.

“Menjaga kelestarian satwa tidak hanya sebatas memindahkan satwa dari masalah di hutan, tetapi yang paling utama adalah menjaga lingkungan hidup yang menjadi habitat aslinya.” Pungkasnya.

Sesi talkshow menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, yakni Kepala Seksi KSDA Wilayah 1 Surakarta, Sudadi; Dosen Ekologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.; serta Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Huaso Mulia.

Dr. Puguh memaparkan asal-usul, persebaran, hingga kemiripan genetik orangutan dengan manusia yang mencapai 97 persen, sementara Sudadi menegaskan bahwa lembaga konservasi ex situ seperti Solo Safari memiliki landasan hukum yang kuat serta terbukti mampu menjadi tempat berkembang biak yang baik bagi satwa langka. (dea/rit)



TERKINI

50 Pejabat Pemkab Kudus Jalani Tes Urine

Bupati Sam’ani Tekankan Pengawasan APBDes

PAD Kabupaten Kudus Tembus Rp598,4 Miliar

Rekomendasi

...