JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi membuka perhelatan akbar Hari Wayang Dunia (HWD) ke-12 tahun 2026. Mengusung tema filosofis Uruping Blencong: Menjaga Nyala Wayang dari Jagat Lokal ke Panggung Global, perhelatan yang dipusatkan di Pendopo Agung GPH Joyokusumo ISI Surakarta ini menjadi momentum penguatan ekosistem wayang nusantara menuju panggung internasional.
Acara dibuka secara resmi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Profesor Dr. Fadli Zon, yang diwakili oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan. Melalui sambutannya, Menteri Kebudayaan menegaskan komitmen penuh pemerintah dalam mendukung pelestarian seni tradisi agar tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Peringatan Hari Wayang Dunia menuntut konsistensi dalam tiga hal utama: perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan, serta pembinaan SDM pewayangan. Wayang harus menjadi ruang dialog inklusif, media edukasi karakter, serta diplomasi budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan roh tradisinya,” ungkap Dr. Restu Gunawan.
Sementara itu, Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala menyampaikan bahwa tema Uruping Blencong memiliki kedekatan mendalam dengan perjalanan kebudayaan nusantara. Blencong, sebagai lampu minyak penerang dalam pertunjukan wayang kulit, dimaknai sebagai simbol semangat untuk merawat pengetahuan, kreativitas, dan kearifan lokal lintas generasi.
“Tradisi memberikan kedalaman pengetahuan, sementara inovasi menggunakan pendekatan artistik dan teknologi kontemporer memungkinkan wayang menjangkau panggung global dan generasi muda,” ujar Rektor ISI Surakarta.
Menariknya, dalam perhelatan HWD tahun ini, Rektor ISI Surakarta juga turun langsung ke kelir untuk tampil mendalang. Hal tersebut menjadi simbol kedekatan kepemimpinan kampus dengan praktik kesenian kreatif yang menjadi jati diri ISI Surakarta.
Festival juga menyajikan parade pertunjukan yang sangat kaya, mulai dari Wayang Purwa, Wayang Gedog, Wayang Madya, Wayang Dupara, Wayang Glek, pameran seni wayang dari berbagai daerah, hingga pertunjukan inovatif Wayang Intermedia karya mahasiswa Program Studi Pedalangan ISI Surakarta.(dea/rit)





