Enceng Gondok Tutupi Sungai Juwana, Ratusan Nelayan Tak Bisa Melaut


JATENGPOS.CO.ID, PATI – Ratusan nelayan tradisional di wilayah Juwana, Kabupaten Pati, terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat permukaan Sungai Juwana dipenuhi enceng gondok dan sampah. Kondisi tersebut membuat sejumlah perahu nelayan terjebak dan kesulitan melintas.

Pantauan di sekitar Jembatan Lama Juwana, Senin (2/11) siang, hamparan eceng gondok tampak menutupi sebagian besar permukaan sungai. Sejumlah perahu nelayan terlihat tertahan di tepi sungai karena terhalang rimbunan tanaman air yang menumpuk tebal.

Juru Bicara Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, mengatakan fenomena tersebut sebenarnya kerap terjadi setiap awal musim hujan. Enceng gondok dari wilayah hulu terbawa arus air dan mengalir menuju Sungai Juwana.

Namun, persoalan muncul setelah adanya Bendung Karet Sungai Juana di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan. Menurutnya, keberadaan bendung membuat enceng gondok tertahan dan menumpuk dalam jumlah besar sebelum akhirnya dialirkan ke wilayah hilir.

“Ketika menumpuk di bendung karet, lalu akhirnya tiba-tiba dibuka tanpa ada pemberitahuan, sehingga nelayan menjadi kacau karena tiba-tiba enceng gondok yang menumpuk mengalir ke hilir,” kata Ari.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat nelayan yang sudah berangkat melaut kesulitan kembali ke daratan. Sebagian terpaksa meninggalkan perahunya di lokasi yang jauh dari rumah. Sementara nelayan lainnya tidak bisa berangkat melaut karena jalur sungai tertutup enceng gondok.

Ari menyebut Jampisawan melihat aliran enceng gondok dalam jumlah besar dari wilayah hulu sekitar empat hari sebelum kondisi tersebut terjadi. Setelah bendung karet dibuka, tanaman air itu terlihat bergerak cepat menuju hilir.

Baca juga:  "Pandawa", Solusi Pelayanan BPJS Kesehatan di Tengah Pandemi Covid-19

Menurutnya, persoalan tersebut sebenarnya bisa diminimalkan melalui koordinasi dan pemberitahuan kepada nelayan sebelum pembukaan bendung dilakukan. Pengaturan pembukaan secara bertahap juga dinilai dapat mengurangi dampak terhadap aktivitas masyarakat.

“Misalkan hari ini jam segini akan ada proses pembukaan. Kemudian pembukaan itu kan tidak harus langsung dibuka penuh, sehingga enceng gondok bisa mengalir sedikit-sedikit dan tidak begitu mengganggu nelayan,” ujarnya.

Selain itu, Ari mengusulkan agar pengelolaan bendung karet dilengkapi alat berat untuk mengangkat enceng gondok dan sampah yang tertahan. Dengan demikian, material tersebut tidak sekadar dialirkan sekaligus ke wilayah hilir.

Dampak ekonomi akibat kondisi ini juga cukup besar. Ari memperkirakan satu perahu nelayan tradisional bisa menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp300 ribu per hari. Sementara jumlah perahu nelayan di wilayah Juwana diperkirakan mencapai 400 unit.

“Kalau ngomong soal kerugian, ya bisa saja dihitung 400 perahu kali 300 ribu per hari, sudah empat hari. Itu belum lagi kerugian kapal besar yang sedang melakukan perbaikan dan mengisi perbekalan, itu kan juga sangat terganggu,” ungkapnya.

Ari menambahkan, persoalan enceng gondok dan sampah di Sungai Juwana sebelumnya juga telah disampaikan dalam audiensi bersama DPRD Provinsi Jawa Tengah. Jampisawan bahkan sudah mengirimkan surat kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk meminta audiensi sejak pekan lalu. Namun, hingga kini belum mendapat tanggapan.

Baca juga:  Perang Obor Jepara, Tradisi Api yang Terus Menyala Ratusan Tahun

Sementara itu, Kepala Desa Kedungpancing, Kecamatan Juwana, Didik Narwadi, mengatakan sungai mulai dipenuhi enceng gondok sejak tiga hari terakhir setelah bendung karet dibuka.

Di desanya saja, terdapat sekitar 50 perahu nelayan tradisional yang terdampak. Masing-masing perahu biasanya diawaki dua orang. Jumlah tersebut belum termasuk nelayan dari desa lain di sepanjang aliran sungai.

Didik menyebut satu perahu nelayan berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp300 ribu setiap hari karena tidak bisa melaut.

Menurutnya, persoalan serupa hampir selalu terjadi setiap tahun. Saat bendung karet ditutup, enceng gondok dari wilayah hulu berkumpul di depan bendung. Ketika bendung dibuka, tanaman air tersebut mengalir secara bersamaan menuju hilir.

“Jadi mengagetkan, seluruh permukaan air itu kebak (penuh) enceng gondok,” katanya.

Bahkan, sehari sebelumnya hamparan enceng gondok sempat memenuhi sungai sepanjang kurang lebih dua kilometer, mulai dari wilayah Desa Bajomulyo. Meski sebagian kini sudah mulai terbawa arus, keberadaannya masih menghambat aktivitas nelayan.

Terkait penanganan, Didik mengatakan pemerintah desa terus berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juwana. Ia menyebut sudah ada rencana peminjaman alat berat atau begu untuk mengangkut enceng gondok dari sungai.

“Semoga alatnya cepat terealisasi dan bisa mengurangi enceng gondok. Tadi dijanjikan secepat mungkin,” pungkasnya. (ida/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...