JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Peluncuran buku Tiga Lelakiku karya Kabag SDM Polres Karanganyar, Kompol Hastin Marhadjanti, S.Psi., yang menulis dengan nama pena Angin, berlangsung penuh emosi. Buku memoar itu tidak hanya bercerita tentang tugas, tetapi juga tentang keluarga, kesabaran, dan keteguhan seorang polisi wanita (polwan).
Acara launching dipandu Ngadiyo selaku moderator dari penerbit Diomedia. Mengawali perbincangan, Ngadiyo menyatakan menulis memoar akan berdampak pada psikologi penulisnya, karena penulis harus kembali membuka ingatan dan perasaan yang pernah dilalui.
Dalam perjalanan menulisnya, Kompol Hastin memang sudah terbiasa menulis. Ia sering menulis opini di koran, terutama tentang perlindungan perempuan dan anak (PPA) serta lembaga perlindungan anak (LPA). Ketika tulisannya dibaca dan bermanfaat bagi banyak orang, ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan.
Namun, suasana berubah ketika Kompol Hastin mencoba mengungkapkan kisah keluarganya. Air mata dan emosinya tertahan, kata-katanya tak terungkapkan. Moderator pun memberikan waktu kepada Niken Setyawati mantan jurnalis yang kini menjadi dosen selaku pembicara ke dua untuk melanjutkan perbincangan.
“Kita semua pasti akan diuji. Selama ujian itu berpihak pada kita, kita pasti bisa jalani. Rasa syukur harus terus kita lakukan. Sabar, ikhlas, dan syukur itu harus terus kita kuatkan. Itu iman,” ujar Hastin.
Niken Setyawati kemudian menceritakan salah satu ujian terberat yang dihadapi Hastin. Di saat ia akan menyelesaikan pendidikan perwira, di tempat lain suaminya harus menjalani operasi.
Kisah itu, menurut Niken, memperlihatkan sisi lain polisi yang jarang terlihat publik. Polisi kerap dianggap sebagai entitas di luar kemanusiaan, padahal di balik seragam ada kehidupan keluarga yang harus dijaga.
“Tulisan Bu Hastin menjelaskan itu, bahwa polisi juga punya panggung belakang, berupa keluarga, menunggu dan merawat suami yang sakit, membesarkan dan mendidik anaknya. Sehingga yang perlu kita narasikan, polisi itu juga manusia,” kata Niken.
Hastin menegaskan ia konsisten menulis dalam kalimat-kalimat yang jujur. Ia bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya, karena buku ini ia siapkan sebagai warisan untuk anak cucu.
“Tanggung jawab dengan apa yang kita tuliskan, karena saya ingin buku ini jadi warisan anak cucu, jujur dengan apa yang kita tulis,” pungkas Hastin.
Melalui “Tiga Lelakiku”, Hastin ingin menyampaikan pesan bahwa di balik ketegasan seorang polisi, ada seorang istri dan ibu yang juga belajar sabar, ikhlas, dan bersyukur dalam menjalani setiap ujian kehidupan. (yas/rit)





