25.6 C
Semarang
Selasa, 20 Januari 2026

APINDO Solo Soal Kenaikan Upah 6,5% Memberatkan Pengusaha, Harapkan Kebijakan Pemerintah

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Kenaikan upah minimum sebesar 6,5% mulai Januari 2025 menjadi perhatian serius Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Solo. Sekretaris APINDO Solo, Wahyu Haryanto, menyebut bahwa keputusan tersebut memberatkan sebagian besar pengusaha, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

“Kenaikan ini kami kembalikan kepada pengusaha. Jika ada keberatan, mereka dapat menyelesaikannya melalui jalur bipartit,” ujar Wahyu.

Menurutnya, 117 anggota APINDO Solo, yang terdiri dari perusahaan besar hingga pelaku UMKM, telah mendapatkan sosialisasi terkait kenaikan upah ini. Namun, apakah seluruhnya akan mengikuti aturan atau menyampaikan keberatan masih menjadi tanda tanya.

APINDO Solo juga tengah menjalin kolaborasi dengan Pemerintah Kota Solo melalui dinas-dinas atau OPD untuk menjalankan program yang mendukung pengusaha lokal dan perusahaan daerah. “Kami ingin APINDO tetap menjadi wadah bagi pengusaha dan mampu mendukung stabilitas ekonomi,” tambah Wahyu.

Baca juga:  Kapolri Pastikan Kualitas Makanan 32 SPPG Polri di Jateng Terjaga

Sri Saptono Basuki, Sekretaris II APINDO Solo, menekankan pentingnya perhatian pada pola bisnis aglomerasi industri yang masih dominan. “Solo tidak bisa berdiri sendiri, harus berkolaborasi dengan daerah sekitar,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti perlunya relaksasi kebijakan dari pemerintah dan perbankan agar lebih bijaksana dalam membuat regulasi. “Saat ini banyak ketidakpastian karena regulasi sering berubah mendadak, ditambah momentum tahun politik. Semua stakeholder harus diajak berdiskusi,” ujarnya.

Bengawan Tedjohandoyo dari Luwes Grup menambahkan bahwa tidak hanya industri besar ekspor-impor yang terdampak, tetapi juga bisnis ritel lokal. “Bisnis ritel menghadapi tekanan dari persaingan dengan ritel online yang lebih sederhana dan murah, serta masuknya produk impor yang lebih kompetitif,” jelas Benk.

Baca juga:  Pemprov Jateng Sosialisasikan Transisi Energi Menuju Industri Hijau SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) menggandeng banyak pihak, untuk penggunaan energi alternatif dalam menuju industri hijau (green industry). Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Jateng Sumarno, langkah paling dekat yakni penggunaan panel surya dan gas alam atau Compressed Natural Gas (CNG), untuk dunia industri. "Transisi energinya bertahap. Kita dorong di beberapa kawasan industri juga menggunakannya. Sekarang juga sudah menuju untuk penggunaan CNG di Jawa Tengah," kata Sumarno mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), usai Rapat Koordinasi Kabupaten/Kota Bidang Indag Tahun 2025 dan Sosialisasi Rengganis Pintar "Revitalisasi Green Industry" Guna Mendorong Peningkatan Ekspor Jawa Tengah, di The Wujil Resort & Convention Kabupaten Semarang, Kamis, 2 Oktober 2025. Untuk pemanfaatan CNG, kata Sumarno, didukung oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) pemasangan transmisi dari Cirebon-Semarang (Cisem) yang saat ini sedang berproses. "Selain lebih ramah lingkungan, sebetulnya CNG itu menggunakan produk dalam negeri," katanya. Dikatakan Sumarno, Pemerintah Provinsi Jateng juga memiliki Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang punya produk CNG yakni PT Jateng Petro Energi. Perseroda didorong untuk memperbanyak produksi gas alam dan disalurkan baik untuk industri kecil maupun besar. Di sisi lain yang tak kalah penting, yakni setiap perizinan usaha dan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) harus harus benar-benar dipatuhi. Supaya lingkungan tetap terjaga. Apalagi Jawa Tengah dijadikan provinsi penumpu pangan dan industri, di mana keduanya harus seimbang. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jateng, July Emmylia, mengatakan, program Rengganis Pintar, merupakan, suatu upaya kita untuk dapat mempercepat implementasi Industri Hijau di wilayah setempat. "Karena apa? Karena sekarang ini market driven sudah mewajibkan untuk ber-sertifikat IUDR dan FSC. Nah, kalau tidak kita segera kejar kita akan kehilangan market," katanya. Emmy menjelaskan, green market action itu berada pada angka 79,12 persen. Hal itu harus segera dipenuhi agar tidak kehilangan potensi pasar dan mengurangi produk ekspor. Adapun Rengganis Pintar merupakan sistem mulai dari forum konsultasi, komunikasi, kemudian instrumen indeks siap hijau untuk mengukur kesiapan industri. Khususnya untuk industri kecil menengah (IKM). "Pelaku IKM didampingi dan diberikan fasilitasi sertifikat gratis. Sertifikat gratis ini untuk dapat menuju ke Industri Hijau," katanya. Disperindag, kata Emmy, memiliki target jangka pendek dan panjang. Jangka pendeknya melelui program itu akan menambah jumlah kesadaran pelaku industri untum bersertifikat hijau. Untuk jangka panjang akan membuat peta arah (roadmap). "Pada tahun 2028 nanti Pak Gubernur Ahmad Luthfi itu sudah mencanangkan arah kebijakan pembangunan. Yakni peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah itu melalui potensi lokal dan industri hijau," katanya. (*)

Ia juga mengkhawatirkan dampak kenaikan pajak menjadi 12%, yang dinilai akan memengaruhi banyak komponen operasional bisnis. “Kenaikan UMK menjadi momok bagi pengusaha. Namun, dengan kebijakan yang terukur, kami tetap optimis,” pungkasnya.

APINDO Solo berharap pemerintah dapat memahami kondisi rentan industri saat ini, terutama di tengah dinamika ekonomi global, dan mengambil kebijakan yang tepat untuk mendukung keberlanjutan dunia usaha. (Dea)


TERKINI

Rekomendasi

...