Kopi Jateng Berkualitas Tinggi, Heri Pudyatmoko Usul Jalur Wisata Terintegrasi dari Kebun hingga Kedai


JATENGPOS.CO.ID SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengusulkan pengembangan jalur wisata kopi terintegrasi yang menghubungkan kawasan perkebunan, proses pengolahan, pusat edukasi kopi, hingga jaringan kedai lokal di berbagai daerah.

Menurutnya, potensi kopi Jawa Tengah yang selama ini dikenal memiliki kualitas tinggi perlu dikembangkan lebih jauh agar tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga penggerak ekonomi desa dan sektor pariwisata.

Heri mengatakan, Jawa Tengah memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan wisata kopi berbasis kawasan. Selain didukung kondisi geografis yang cocok untuk budidaya kopi, sejumlah daerah juga telah memiliki reputasi sebagai penghasil kopi berkualitas dengan karakter rasa yang khas.“Jangan hanya menjual biji kopi. Kita perlu membangun ekosistem yang membuat wisatawan bisa melihat prosesnya secara utuh, mulai dari kebun, pengolahan, hingga menikmati secangkir kopi di kedai lokal. Di situlah nilai tambah terbesar bisa tercipta,” ujarnya.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah menunjukkan luas areal perkebunan kopi di provinsi ini mencapai 47.714,53 hektare dengan produksi mencapai 26.507,79 ton pada 2024.


Baca juga:  Target Pajak DJP Jateng II Triwulan III Capai 63,03 Persen Senilai Rp 10,14 triliun

Selain itu, sentra perkebunan kopi tersebar di 28 kabupaten/kota dengan komoditas utama berupa kopi robusta dan arabika. Beberapa daerah bahkan telah ditetapkan sebagai kawasan kopi nasional, seperti Temanggung, Wonosobo, Kabupaten Semarang, Magelang dan Jepara.

Menurut Heri, besarnya produksi tersebut menunjukkan bahwa kopi Jawa Tengah memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih luas dibanding sekadar penjualan hasil panen. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, budaya minum kopi dan pertumbuhan kedai kopi terus berkembang di berbagai daerah.

Politikus Partai Gerindra itu menilai, konsep wisata kopi dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan.

“Selama ini sebagian besar keuntungan masih terkonsentrasi di hilir. Melalui wisata kopi, petani bisa mendapatkan nilai ekonomi tambahan karena wisatawan datang langsung ke kawasan produksi,” katanya.

Heri mencontohkan daerah seperti Temanggung, Wonosobo, Batang, Banjarnegara, hingga Kabupaten Semarang yang memiliki bentang alam pegunungan dan perkebunan kopi yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis pengalaman atau experience tourism.

Menurutnya, wisatawan saat ini tidak hanya mencari produk, tetapi juga cerita, pengalaman dan keunikan yang melekat pada suatu daerah.

Baca juga:  Gandeng Hanung Bramantyo, Wali kota Ingin Semarang Lahirkan Sineas

“Setiap daerah memiliki karakter kopi yang berbeda. Cerita tentang petaninya, proses budidayanya, hingga budaya masyarakat sekitar merupakan bagian dari daya tarik yang bisa dijual kepada wisatawan,” ujarnya.

Selain meningkatkan kunjungan wisata, Heri menilai pengembangan jalur wisata kopi juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, usaha kuliner, penginapan, transportasi lokal, hingga industri kreatif yang terlibat dalam rantai ekonomi pariwisata.

Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha kopi, komunitas kreatif dan sektor pariwisata untuk membangun identitas kopi Jawa Tengah yang lebih kuat di tingkat nasional maupun internasional.

“Jawa Tengah memiliki kopi berkualitas dan cerita yang kuat. Tinggal bagaimana semua potensi itu dihubungkan dalam satu ekosistem yang mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.

“Ketika kopi tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pengalaman wisata, maka manfaat ekonominya akan jauh lebih besar dan dirasakan oleh lebih banyak masyarakat,” pungkasnya. (sgt)


TERKINI

Rekomendasi

...

Pesona Taman Bank Jateng di Festival of...

Bantuan Dana untuk 890 Desa Wisata Harus...

Polres Demak Gelar Donor Darah