JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kuliner warisan keluarga di Kota Semarang terus bertahan di tengah perubahan zaman. Salah satunya Ayam Tulang Lunak Keraton yang telah mempertahankan resep keluarga sejak 1986 dan kini memasuki generasi ketiga.
Andrei Kurnia salah satu pengelola generasi ketiga mengatakan, usaha tersebut pertama kali didirikan pada 1986 dengan menggunakan resep asli yang berasal dari nenek istrinya. Resep tersebut kemudian diteruskan oleh orang tua istrinya sebelum akhirnya dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
“Resep originalnya sudah dari oma istri saya sejak 1986. Lalu diteruskan oleh mertua saya dan sekarang istri saya mulai terjun dan melanjutkan legacy ini di Kota Semarang,” ujar Andrei, saat ditemui JATENG POS, Jumat (18/9).
Salah satu ciri khas Ayam Tulang Lunak Keraton adalah proses pengolahan ayam menggunakan teknik presto. Proses tersebut membuat tulang ayam menjadi lunak sehingga dapat dimakan, sementara tekstur daging tetap utuh dan tidak hancur.
“Ciri khasnya ayam presto atau ayam tulang lunak. Diproses sehingga tulangnya cukup lembut, tetapi dagingnya tidak hancur,” jelasnya.
Ayam yang digunakan juga tersedia dalam beberapa jenis, mulai dari ayam broiler, ayam pejantan dan ayam kampung.
Saat ini, Ayam Tulang Lunak Keraton memiliki dua outlet di Semarang. Outlet pertama sekaligus pusat usaha berada di Jalan Kranggan Haji Wahid Hasyim. Sementara outlet kedua berada di Mal Tentrem dan dibuka pada tahun lalu.
Selama empat dekade, pelanggan Ayam Tulang Lunak Keraton didominasi masyarakat lokal. Bahkan, sebagian pelanggan merupakan keluarga yang telah mengenal kuliner tersebut sejak generasi sebelumnya.
Meski kuat sebagai kuliner lokal, Ayam Tulang Lunak Keraton juga mulai dikenal wisatawan. Sejumlah rombongan perjalanan dari berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Demak dan Kudus, kerap singgah untuk menikmati menu tersebut.
Dalam sehari, Ayam Tulang Lunak Keraton rata-rata mengolah sekitar 50 hingga 70 ekor ayam.
Menjaga cita rasa menjadi tantangan sekaligus komitmen utama usaha yang telah bertahan selama 40 tahun tersebut.
Andrei menegaskan, pihaknya ingin mempertahankan kualitas dan rasa agar tetap sama seperti yang diwariskan sejak awal.
“Harapan ke depannya adalah menepati janji untuk menjaga kualitas dan selalu menjaga produk kami dengan rasa yang tidak berubah,” tuturnya.
Di tengah perkembangan pemasaran digital, Ayam Tulang Lunak Keraton yang selama ini mengandalkan pendekatan tradisional mulai beradaptasi dengan dunia digital.
“Mempertahankan resep warisan keluarga dan mengikuti perkembangan zaman, adalah bagian dari keberlanjutan, bukan sekadar memperpanjang usia bisnis, tetapi juga menjaga cita rasa yang telah melekat di lidah pelanggan lintas generasi,” pungkas Andrei Kurnia. (ucl/rit)




