JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Upaya konservasi di kawasan ekosistem Gunung Muria menunjukkan angin segar. Populasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa endemik berstatus terancam punah yang kerap dijuluki Burung Garuda, kini tercatat meningkat menjadi 20 ekor dari data sebelumnya yang hanya 14 ekor.
Meski mengalami kenaikan angka, keberadaan predator udara ini tetap berada dalam bayang-bayang ancaman kepunahan. Tim Penggiat Konservasi Alam Muria (Peka) saat ini terus memperketat pemantauan aktivitas, pergerakan harian, hingga titik sarang baru di atas langit pegunungan Muria.
‘’Awalnya kami mencatat ada sekitar 14 ekor, sekarang ada 20-an ekor. Ada beberapa titik baru yang berhasil kami pantau keberadaannya,’’ ujar Ketua Peka Muria, Teguh Budi Wiyono, Selasa (14/7).
Teguh mengungkapkan bahwa Elang Jawa di Gunung Muria memiliki keunikan perilaku yang berbeda dari wilayah lain di Pulau Jawa. Jika umumnya mereka beraktivitas jauh di dalam hutan lebat, kawanan Elang Jawa di Muria kerap terpantau terbang mendekati wilayah permukiman warga.
‘’Beberapa kali terlihat di tepi permukiman, padahal sarangnya berada jauh di dalam hutan,’’ jelas Teguh.
Selain Elang Jawa, kawasan Muria teridentifikasi menjadi rumah bagi delapan jenis burung predator lainnya, termasuk Elang Hitam, Elang Bido, Elang Brontok, Alap-alap Jambul, Alap-alap Sapi, Elang Sikep, hingga Elang Laut yang secara tidak biasa bermigrasi mencari mangsa ke area pegunungan ini.
Melalui kolaborasi bersama Djarum Foundation dan Burung Indonesia, Peka Muria mencatat total ada 118 jenis burung yang hidup di kawasan tersebut. Siklus pemantauan dilakukan secara bertahap sejak 2024, dan pada tahun 2026 ini pengamatan difokuskan penuh pada pemetaan sarang elang selama musim berkembang biak dari Mei hingga Oktober.
Secara nasional, populasi Elang Jawa diperkirakan hanya tersisa 300 hingga 500 ekor di seluruh Pulau Jawa dan Bali. Keberadaan 20 individu di Gunung Muria menjadikannya salah satu kantong populasi krusial yang wajib dilindungi. Satwa ini umumnya bersarang pada pohon-pohon raksasa hutan seperti jenis ficus dan pohon pranak.
Ekosistem Muria tidak hanya menghidupi burung pemangsa. Kawasan ini juga menjadi benteng pertahanan terakhir bagi mamalia langka seperti Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Saat ini, tercatat ada 14 ekor macan tutul dewasa yang terdiri dari 9 betina dan 5 jantan.
‘’Saat ini kami juga mendeteksi adanya dua ekor anakan macan tutul baru serta dugaan keberadaan macan kumbang (varian hitam), meski keberadaannya masih terus diverifikasi di lapangan akibat ketatnya seleksi alam di dalam hutan,’’ pungkasnya. (han/rit)





