Sungai Bango Tercemar Limbah Industri Tapioka


JATENGPOS.CO.ID, PATI – Pencemaran limbah industri tapioka di Sungai Bango, Desa Bulumanis Lor, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, semakin memprihatinkan. Bau menyengat, serbuan lalat dan serangga, hingga merosotnya hasil pertanian dan tambak menjadi keluhan yang terus dirasakan warga.

Ironisnya, upaya pengerukan sedimentasi oleh dinas terkait belum mampu menyelesaikan persoalan. Limbah baru disebut kembali mengalir ke sungai dari kawasan produksi tepung tapioka di desa tetangga.

Anggota Aliansi Warga Anti Limbah (Awali) Bulumanis Lor, Ahmad Arfi Setiadi, mengatakan kondisi Sungai Bango justru semakin parah meski pengerukan telah dilakukan sekitar dua pekan terakhir.

“Meskipun ini dikeruk setiap hari sampai bersih pun, pasti ke depannya akan balik lagi limbahnya,” kata Ahmad, Kamis (8/10).

Menurut dia, sedimentasi limbah padat di dasar sungai diperkirakan mencapai ketebalan hingga 1,5 meter. Karena itu, warga menilai pengerukan hanya menjadi solusi sementara jika sumber pencemaran tidak dihentikan.

Baca juga:  Waw! Omset Dandangan Kudus Tembus 15 Milliar

Ahmad meminta pemerintah tidak hanya menggelontorkan anggaran untuk pengerukan, tetapi juga mengambil tindakan terhadap perusahaan yang diduga menjadi sumber pencemaran.

“Hendaknya usahanya ditutup sementara sampai IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) ini terpenuhi,” tegasnya.

Keluhan senada disampaikan Anggota BPD Bulumanis Lor, Saiful Mujab. Menurutnya, pencemaran Sungai Bango telah mengganggu kehidupan warga selama beberapa tahun terakhir, terutama sejak berdirinya sejumlah pabrik besar di sekitar wilayah tersebut.

Selain bau busuk dan banyaknya nyamuk, warga kini harus menghadapi serbuan lalat yang bahkan masih mengganggu hingga malam hari.

“Harapannya ke depan semoga pihak berwenang punya tindakan tegas buat pabrik-pabrik, untuk menutup sementara biar ini kondusif dulu,” ujar Saiful.

Dampak pencemaran juga dirasakan sektor pertanian dan tambak. Saiful menyebut para petani sawah dan pemilik tambak mengalami kerugian akibat kualitas air sungai yang tercemar.

Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar kerusakan lingkungan. Bau limbah yang menyengat telah mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari.

Baca juga:  Rutan Kudus Gelar Razia Gabungan Skala Besar

Sarimah, warga setempat, mengaku kerap merasa mual hingga ingin muntah ketika mencium bau limbah, terutama saat perut kosong.

Ia bahkan membandingkan kondisi Sungai Bango saat ini dengan masa lalu ketika air sungai masih bersih dan jernih.

“Harapannya harus diperbaiki seperti semula,” kata Sarimah.

Warga juga menyoroti informasi yang disampaikan dalam koordinasi bersama DLH Pati beberapa waktu lalu. Berdasarkan data yang mereka terima, terdapat sekitar 33 perusahaan tapioka yang disinyalir belum memiliki IPAL standar.

Kondisi tersebut membuat warga mendesak Pemkab Pati dan aparat penegak hukum tidak berhenti pada penanganan dampak, tetapi juga menelusuri sumber pencemaran dan memastikan kepatuhan pengelolaan limbah industri.

Warga berharap Sungai Bango tidak terus menjadi tempat menumpuknya limbah. Mereka meminta ada langkah konkret agar fungsi sungai sebagai sumber kehidupan masyarakat dapat kembali pulih. (Ida/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...