Jateng Valley Mangkrak! Gerbang Digembok, Warga Pedagang Menjerit Sepi


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Pagar seng tinggi menutup rapat gerbang utama. Gembok besar menggantung. Di dalamnya, bangunan mulai kusam dan semak belukar tumbuh liar. Itulah potret Jateng Valley di kawasan hutan Penggaron, Kelurahan Susukan, Ungaran Timur, kemarin.

Proyek wisata yang dulu digadang-gadang jadi destinasi terbesar se-Asia Tenggara itu kini sunyi dan mangkrak.

Maryam (52) masih ingat betul. Tahun 2020, setiap hari puluhan pekerja keluar masuk kawasan. Warung kecilnya di depan gerbang laris manis.

“Awalnya ramai sekali. Banyak pekerja datang setiap hari. Warga juga berharap nanti bisa buka usaha karena kalau wisatanya jadi, pengunjung pasti banyak,” ujar Maryam ditemui di warungnya.


Harapan itu kandas saat pandemi Covid-19 datang. Aktivitas berhenti. Para pekerja tak pernah kembali.

“Setelah Covid, sudah tidak ada lagi. Kami pikir nanti dilanjutkan. Tapi sampai sekarang belum ada kabar,” katanya.

Baca juga:  Representasikan Perempuan, Bu Kades Nur Arifah Daftar Bacawabup Semarang

Sesekali masih ada tamu datang meninjau. Diduga calon investor. Tapi kunjungan itu tak pernah berlanjut jadi pembangunan.

“Pernah ada yang lihat-lihat. Setelah itu tidak ada kelanjutannya,” ucapnya.

Dampaknya langsung ke warga. Dulu Maryam bisa melayani pekerja, pengunjung, bahkan katering untuk peserta kemah. Sekarang warungnya hanya mengandalkan pengendara yang melintas.

“Dulu banyak yang makan, ngopi, sampai bungkus nasi. Sekarang paling orang lewat saja. Rasanya sepi sekali,” keluhnya.

Padahal sebelum jadi Jateng Valley, lahan 372 hektare ini adalah Wana Wisata Penggaron milik Perhutani. Saat liburan sekolah, dulu kawasan ini penuh tenda kemah. Ada jalur offroad, komunitas sepeda gunung, bahkan mahasiswa datang untuk penelitian.

“Tiketnya cuma Rp6.000, tapi ramai. Saya sering masak katering untuk kemah. Offroad juga rame,” kenang Maryam.

Bagi Maryam, Jateng Valley bukan sekadar proyek besar. Ini soal rezeki puluhan keluarga di Susukan.

Baca juga:  Polsek Banyumanik Evakuasi Mortir Kaliber 60

“Kalau bisa diteruskan saja. Sayang kalau dibiarkan seperti ini. Kalau dibangun lagi pasti banyak orang datang dan masyarakat juga bisa ikut cari rezeki,” harapnya

Lurah Susukan, Suhartono, mengaku pihak kelurahan tidak dapat informasi terbaru soal kelanjutan proyek. Pemerintah kelurahan hanya dilibatkan saat sosialisasi awal oleh Pemprov Jateng.

“Setelah sosialisasi sempat berjalan, tapi sekarang berhenti. Belum ada info lagi,” ujarnya.

Beberapa fasilitas sempat dibangun seperti akses jalan dan gazebo. Tapi hingga kini kawasan belum pernah beroperasi sama sekali.Padahal warga sudah bersiap. Lewat program Kota Tanpa Kumuh atau Kotaku, lingkungan sekitar ditata. Kelompok wanita tani juga dibentuk untuk menyambut wisatawan.

“Harapan masyarakat tentu proyek ini bisa dilanjutkan. Yang penting benar-benar memberi manfaat, buka lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi warga,” pungkas Suhartono. (muz)


TERKINI


Rekomendasi

...