JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus meminta seluruh elemen masyarakat meningkatkan kewaspadaan, menghadapi ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino pada tahun ini. Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang, dengan potensi dampak El Nino yang patut diwaspadai hingga awal 2027.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, didampingi Kasi Kegawatdaruratan dan Logistik, Ahmad Munaji, menegaskan bahwa penanganan kekeringan tidak boleh hanya bersifat reaktif saat krisis terjadi. Langkah penanganan harus terencana lebih awal melalui mitigasi dan kesiapsiagaan lintas sektor.
‘’Kami tidak hanya berfokus pada dropping air bersih, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan, pendataan wilayah rawan, pemanfaatan sumber air alternatif, serta koordinasi lintas sektor. Harapannya, kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi meskipun kemarau berlangsung panjang,’’ ujar Eko Hari Djatmiko dalam keterangan resminya, Selasa (20/10).
Guna mengantisipasi krisis air yang meluas, BPBD Kudus telah menyiagakan dua unit mobil tangki serta 26 unit tandon air bergerak (mobile) dengan kapasitas bervariasi antara 2.500 hingga 5.200 liter per unit.
Selain menyalurkan bantuan armada, BPBD juga mendorong penguatan program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), optimalisasi tandon komunal, serta penggunaan jaringan PDAM.
‘’Langkah ini diambil agar pemerintah desa dan masyarakat memiliki cadangan air mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan tangka,’’ jelasnya.
Sambung Munaji, tidak hanya fokus pada krisis air bersih, BPBD Kudus turut meningkatkan kesiapsiagaan personel dan sosialisasi larangan pembakaran lahan untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Berdasarkan data BPBD Kudus per Senin 19 Oktober 2026, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 4.549.000 liter. Bantuan tersebut telah menjangkau 1.474 KK atau setara 4.478 jiwa di 9 desa yang tersebar di 3 kecamatan.
Ahmad Munaji menjelaskan, saat ini dua desa yakni Glagahwaru (Kecamatan Undaan) dan Colo (Kecamatan Dawe) sudah menghentikan proses dropping air karena kondisinya mulai stabil. Fokus penyaluran air bersih kini dipusatkan di Kecamatan Kaliwungu yang mencakup 7 desa terdampak, yaitu Setrokalangan, Kedungdowo, Mijen, Garunglor, Kaliwungu, Karangampel, dan Papringan.
Di sisi lain, BMKG memprediksi masa peralihan musim akan dimulai pada akhir November 2026 dengan estimasi curah hujan antara 50 hingga 300 mm. Kendati ada potensi hujan, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap cuaca ekstrem selama masa pancaroba tersebut dan terus menghemat penggunaan air bersih. (han/rit)







