JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Pemerintah Kota Surakarta memperkuat keamanan dan mutu produk jamu melalui Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN). Langkah nyata ini diwujudkan lewat kegiatan Bimbingan Teknis Cara Pembuatan Jamu yang Baik di Bale Tawang Praja, Balai Kota Surakarta, Senin (26/10).
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM bekerja sama dengan Balai POM di Surakarta dan para pemangku kepentingan daerah.
Acara dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani bersama Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mohamad Kashuri. Turut hadir Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Syamsidar Thamrin serta Kepala Balai POM di Surakarta Taufiqurrohman.
Kegiatan bimtek ini diikuti puluhan peserta yang terdiri atas pelaku usaha jamu gendong, distributor, hingga produsen jamu dari Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo. Hadir pula perwakilan GP Jamu Jawa Tengah, Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI), serta Dinas Koperasi dan UKM dari kedua daerah tersebut.
Dalam sambutannya, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional BPOM Mohamad Kashuri menegaskan pentingnya intervensi langsung kepada para pelaku usaha jamu. Pembinaan dan pendampingan dinilai krusial agar produk yang dihasilkan benar-benar memenuhi standar keamanan.
“Peningkatan literasi masyarakat perlu diimbangi dengan intervensi langsung kepada pelaku usaha melalui pembinaan dan pendampingan. Upaya ini penting agar pelaku usaha tidak hanya memahami keamanan jamu, tetapi juga mampu menerapkan standar yang dipersyaratkan untuk menghasilkan produk yang aman, berkhasiat, dan bermutu,” tegas Mohamad Kashuri.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menyampaikan bahwa Kota Solo memiliki potensi besar dalam pengembangan wellness tourism (wisata kebugaran/kesehatan). Menurutnya, pelestarian dan pengembangan jamu tradisional dapat menjadi salah satu pilar utama penguat sektor tersebut.
“Program IDAMAN perlu didukung bersama agar jamu dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata kesehatan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha dan ekonomi masyarakat,” ujar Astrid Widayani.
Melalui bimbingan teknis ini, BPOM mendorong peningkatan kompetensi para pelaku usaha dalam menerapkan standar pembuatan jamu yang higienis dan sesuai regulasi. Kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha diharapkan mampu memperkuat ekosistem jamu yang berkelanjutan, melestarikan warisan budaya, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap jamu Indonesia. (dea/rit)








